06 February 2020, 13:31 WIB

Satu Meninggal Dunia di Sragen Karena DBD


Widjajadi | Nusantara

DEMAM berdarah mulai berjangkit di wilayah kabupaten Sragen, Jawa Tengah dan telah meminta satu korban jiwa di Desa Nglorok, Kecamatan Sragen Kota pada akhir Januari lalu. Dibandingkan Januari tahun lalu, yang menewaskan 3 korban jiwa pengidap, dengan jumlah warga yang terpapar positif DBD sebanyak 288 orang, maka kondisi periode sama tahun ini sangat jauh berkurang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr Hargiyanto mengatakan, ada penurunan yang sangat signifikan.

"Jumlah pastinya berapa, saya belum membawa data. Tapi beda sangat jauh dengan kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi pada periode Januari 2019," kata Hargiyanto kepada Media Indonesia, Kamis (6/2).

Dia paparkan, meski tidak separah tahun sebelumnya, penyakit DBD di awal tahun ini perlu disikapi dengan seksama, mengingat sudah membawa satu korban jiwa di Nglorok.  Hingga pekan pertama Februari ini ada lebih 22 warga yang dideteksi suspect DBD.

Suspect itu didasarkan atas laporan awal kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS). Namun setelah dilakukan pengecekan dengan sistem aplikasi DBD Elektronik yang ada di DKK, hanya satu orang yang dinyatakan positif DBD, yakni warga Nglorok yang akhirnya meninggal.

"Yang lainnya berarti bukan DBD dan bukan pula demam dengue. Biasanya dari rumah sakit kalau ada laporan pasien dengan gejala klinis mengarah DBD, lalu dilaporkan suspect DBD. Lalu DKK memasukkan ke aplikasi DBD elektronik akan bisa diketahui apakah diagnosanya positif DBD atau bukan," imbuh dia.

Langkah DKK Sragen untuk  menekankan penyebaran DBD,  mengimbau kepada masyarakat untuk terus menggencarkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin dan menyeluruh. Sebab hanya dengan PSN bisa mencegah berjangkitnya nyamuk dan vektor penyebab DBD. Lebih jauh dia ungkapkan kendati angka kasus DBD menunjukkan tren penurunan, masyarakat harus tetap melakukan PSN di lingkungan dan rumah masing-masing.

"Jangan sampai tidak disiplin, karena ini menjaga kesehatan keluarga," imbuh Hargiyanto.

baca juga: Jokowi Diminta Akui Masyarakat Adat Kalsel

Sebab, fakta di lapangan, tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan PSN masih labil dan perlu ditingkatkan. DKK Sragen bersama puskesmas, setiap Jumat, rutin mengelar PSN. Apalagi saat ini masih musim hujan, yang mana mempercepat pertumbuhan jentik nyamum. Khusus untuk daerah yang terkendala air utamanya di Sragen Utara, masyarakat disarankan senantiasa mengecek dan menguras tandon-tandon air karena rawan menjadi tempat bertelur nyamuk dan perkembangbiakan jentik. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT