06 February 2020, 09:22 WIB

Jejak Sang Proklamator di Peneleh


Ardi Teristi Hardi | Nusantara

JAMILAH, 58 tampak sibuk meladeni pertanyaan dari para tamu seputar rumah yang ditinggalinya sejak 1990. Rumah yang berada di Jalan Pandean IV Nomor 40, RT 4 RW XIII Kelurahan Peneleh, Genteng, Surabaya, bukan rumah biasa, melainkan menyimpan sejarah tentang Sang Proklamator. Rumah yang tak jauh dari Kali Mas, Surabaya,
itulah, Presiden Soekarno dilahirkan pada 1 Juni 1901.

 "Saya tidak tahu banyak karena kami menempati rumah ini sudah tangan keempat," kata dia kepada rombongan Komisi A DPRD DIY dan Ketua DPRD Kota Surabaya dan para wartawan, Selasa (4/2).

Jamilah mengaku, dirinya baru tahu rumah yang ditinggalinya adalah rumah kelahiran Bung Karno pada 2005. Rumah yang ditempatinya tersebut sudah beberapa kali diperjualbelikan dan direnovasi. Oleh sebab itu pula, tidak ada barang otentik peninggalan Soekarno ataupun orang tuanya di tempat tersebut.

Hanya sebuah lembaran logam dengan tulisan Rumah Kelahiran Bung Karno yang ditempel di bagian depan rumah sebagai penanda rumah tersebut memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini. Selain itu, ada pula piagam dari The Sukarno Center yang dibingkai dan dipajang di ruang tamu.

Dari bentuk fisiknya, rumah berukuran 6x16 meter ini memang tampak tua. Arsitekturnya mengadopsi gaya indis dengan dinding kokoh dan bagian depan terlihat seperti bertingkat. Beberapa tokoh dan keturunan Bung Karno, seperti Megawati Soekarnoputri dan  Puti Guntur Soekarno, kata Jamilah, pernah mengunjungi rumahnya.

"Rumah ini sudah menjadi cagar budaya dan akan dibeli oleh Pemerintah Kota Surabaya," jelas dia.

Tidak jauh dari tempat kelahiran Bung Karno, masih di dekat Kali Mas dan Kelurahan Peneleh, ada jejak Bung Karno yang lain, tepatnya di Jalan Paneleh VII Nomor 29-31, Kelurahan Peneleh, Genteng, Surabaya. Rumah yang pernah menjadi tempat tinggal HOS Tjokroaminoto ini pernah menjadi kawah candradimuka bagi Soekarno belajar dan berdialektika tentang berbagai pemikiran dan ideologi yang berkembang saat itu. Di tempat ini pula, Soekarno mengasah kemampuannya dalam berorasi.

"Diperkirakan Bung Karno tinggal di sini dari tahun 1916-1921, kata pemandu Museum HOS Tjokroaminoto, Achmad Yanuar Firmansyah.

Di tempat ini pula, beberapa tokoh seperti Karto Suwiryo, Alimin, Semaun, dan Muso pernah tinggal bersama Soekarno. Soekarno saat itu kos di rumah Tjokroaminoto, karena dia harus sekolah di HBS yang beralamat di Jl Kebonrojo, sekarang Kantor Pos Kebonrojo. Tjokro sendiri merupakan teman dari ayah Soekarno, Soekemi.

Ketika masuk ke rumah tersebut dan menuju bagian belakang, ada sebuah tangga dari besi yang menghubungkan ke loteng, tempat tidur Soekarno dan anak-anak kos yang lain. Luas loteng tersebut, kata Achmad, 10x5 meter, sedangkan lotengnya sekitar 10x13 meter.

"Bangunan utamanya masih asli. Bagian yang sudah tidak ada adalah halaman belakang," kata dia.

Rumah tersebut diperkirakan telah dijual dan ditinggalkan Tjokroaminoto pada 1921. Pada 2011, Pemerintah Kota Surabaya pernah memperbaiki rumah tersebut secara besar-besaran.

Ia mengatakan, tidak ada barang peninggalan Tjokroaminoto di rumah tersebut. Barang-barang yang sekarang dipajang adalah barang-barang baru hasil rekonstruksi sejarah dari berbagai sumber, termasuk tikar pandan yang digunakan tidur Soekarno dan anak-anak kos yang lain serta tempat tidur HOS Tjokroaminoto.

Rumah Peneleh ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan SK Walikota Surabaya No 188.45/251/402/1996 No Urut 55 Tahun 2009. Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono mengungkapkan, pihaknya memberi dukungan penuh kepada Pemerintah Kota Surabaya dalam merawat dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah, termasuk rumah kelahiran Bung Karno dan rumah HOS Tjokroaminoto.

"Bangunan-bangunan bersejarah tersebut menunjukkan Surabaya sebagai tempat persemaian gagasan-gagasan tentang Indonesia modern. Tentang Indonesia ber-Pancasila, dan berbhineka tunggal ika," kata dia.

baca juga: Terus Berupaya Kurangi Dampak Bencana

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD DIY mengaku kagum dengan pemerintah Kota Surabaya, DPRD Kota Surabaya, dan masyarakat Surabaya yang berkomitmen menjaga dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah, terutama yang menjadi jejak-jejak kehidupan Bung Karno. Dua rumah yang dikunjungi tersebut, kata dia, bisa menjadi tempat wisata sekaligus belajar tentang Bung Karno dan NKRI.

"Ini mengaspirasi kami untuk merawat dan menguri-uri (menghidupi) jejak-jejak sejarah yang ada di DIY," kata dia.

Masyarakat pun diajak untuk tidak bosan belajar sejarah, termasuk tentang para pendiri bangsa, terutama sang proklamator, Soekarno. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT