06 February 2020, 05:20 WIB

Jawa dan Sumatra masih Jadi Kontributor Utama


M Ilham Ramadhan | Ekonomi

LANGKAH pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi besar-besaran di luar Jawa belum mampu membuat posisi Jawa dan Sumatra sebagai kontributor utama pertumbuhan.

Masih dibutuhkan upaya lebih keras lagi untuk membuat konsep Indonesiasentris menjadi nyata demi menggerakkan perekonomian di luar kedua pulau.

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 sebesar 5,02% secara spasial masih didominasi dua pulau penyumbang ekonomi terbesar, yaitu Pulau Jawa dan Sumatra.

"Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 strukturnya tidak banyak berubah. Sepanjang 2019, provinsi di Pulau Jawa dan Sumatra itu yang paling besar memberikan kontribusi kepada perekonomian Indonesia," kata Kepala BPS Suhariyanto saat menyampaikan rilis di kantornya, kemarin.

Pulau Jawa berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 59% atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,52% di 2019.

Pulau Sumatra menyumbang sebesar 21,32% terhadap PDB 2019 atau tumbuh sebesar 4,57% di 2019. Tiga wilayah yang berkontribusi di Sumatra ialah Sumatra Utara, Riau, dan Sumatra Selatan.

Adapun Pulau Kalimantan berkontribusi pada PDB 2019 sebesar 8,05% atau tumbuh 4,99%.

"Untuk Kalimantan, yang paling besar sumbangannya ialah Provinsi Kalimantan Timur yang mencapai 50,5% pada perekonomian Kalimantan," terang Suhariyanto.

Kemudian Pulau Sulawesi turut mendistribusikan sebesar 6,33% pada PDB 2019. Pertumbuhan ekonomi di pulau tersebut mencapai 6,65%. Di sisi lain, Bali dan Nusa Tenggara berkontribusi sebesar 3,06% atau tumbuh 5,07%.

Wilayah yang perlu menjadi perhatian, imbuh Suhariyanto, ialah Maluku dan Papua. Pasalnya, kedua wilayah tersebut mengalami kontraksi 7,40%.

"Pertumbuhannya kontraksi 7,40%. Kalau dilihat Maluku masih tumbuh bagus 5,57%, Maluku Utara juga tumbuh bagus 6,13%, demikian juga Papua Barat. Yang menarik ke bawah ialah ekonomi Papua yang mengalami kontraksi pada 2019 minus 15,72%," pungkas Suhariyanto.

Bangun konektivitas

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan pembangunan konektivitas akan mengikis kesenjangan antardaerah yang ada.

Sejumlah program infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga perlu didorong selain terus memacu pertumbuhan industri.

"Kawasan industri di luar Jawa perlu difokuskan pada industri berbasis sumber daya alam, peningkatan efesiensi sistem logistik, dan sebagai pendorong pengembangan kawasan industri sebagai pusat ekonomi baru," tandasnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan pemerintah perlu mendorong munculnya magnet-magnet pertumbuhan baru di daerah dengan mendorong investasi di luar Pulau Jawa. (Des/E-1)

BERITA TERKAIT