06 February 2020, 00:20 WIB

Kuliner RTH Untungkan Swasta


MI | Megapolitan

PEMBANGUNAN pusat kuliner di ruang terbuka hijau (RTH) Muara Karang, Jalan Pluit Karang Indah Timur, Jakarta Utara lebih menguntungkan pihak swasta dibanding publik.

“Bagi hasilnya luar biasa, mengejutkan juga kalau 85% untuk pihak swasta, 15% untuk Jakpro. Ini sama saja dikasih kan,” kata Ketua Fraksi PDIP DKI Gembong Warsono di Gedung DPRD DKI, kemarin.

Pada kontrak kerjasama pengelolaan pusat kuliner itu tertulis PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP), anak perusahaan Jakpro, pemilik lahan di zona hijau di Muara Karang, Jakut dan pihak swasta, PT Prada Dhika Niaga (PDN) telah sepakat membagi keuntungan 85% untuk PT PDN dan 15% untuk PT JUP.

Berdasarkan penelusuran, Dirut PT PDN yang bertandatangan di kontrak itu bernama Desriyanto Sumardi. Nama itu tercantum sebagai pengusaha yang menyumbang untuk kampanye Prabowo-Sandiaga Uno dalam pilpres lalu.

Gembong juga menampik bahwa tujuan pembangunan pusat kuliner itu ditujukan untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Ia menyebut pada brosur yang dilihatnya bahwa harga sewa lahan kuliner di tempat tersebut, tertinggi dijual Rp64 juta per meter persegi.

“Macam-macam variasinya (harga sewanya). Ada yang satu lantai, dua lantai. Tapi, apa UKM mampu? Harga tertinggi sampai Rp64 juta. Itu juga disewakan selama 20 tahun. Mereka (Pemprov) mencoba mengelabui kita-kita (DPRD) soal keberpihakan UKM,” tukas Gembong.

Gembong sebenarnya tidak mempermasalahkan soal penyewaan tersebut. Namun ia mempertanyakan mengapa yang mengelola pusat kuliner itu JUP sebagai anak usaha Jakpro. “Kenapa lancang bikin anak perusahaan?” tuturnya.

Gembong juga menyebut nantinya konsep pusat kuliner di Muara Karang seperti di Kemang.


Terintegrasi

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP DKI Jakarta Benny Agus Chandra menyebut pembangunan sentra kuliner akan terintegrasi dengan Ruang Terbuka Biru (RTB) yakni kali di sekitarnya.
IMB pembangunan RTH itupun sudah diterbitkan resmi sejak 2018.

“Iya sudah ada izinnya sejak pertengahan 2018 dalam rangka penataan taman yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan terbuka biru,” kata Benny.

Sementara Asset & Property Manajemen Head Jakarta Utilitas Propertindo Hafidh Fathoni menyebut pembangunan sentra kuliner akan dilakukan di area itu namun hanya menggunakan 11% lahan.

Ia menegaskan masih ada 89% lahan terbuka hijau yang akan dijadikan taman dan jogging track serta kantung parkir di area itu.

Menurutnya, kios-kios kuliner pun tidak akan dibuat dengan bangunan permanen namun dengan bangunan semi permanen berbentuk seperti kontainer. Model seperti ini sebelumnya telah digunakan di sentra kuliner Thamrin 10.

“Bukan kontainer tapi bangunnya seperti kontainer. Ya kita berpedoman pada perizinan yang sudah ada. Secara aturan boleh atau tidaknya nanti kita coba tanyakan ke bagian legalnya,” tuturnya. (Ins/Put/J-1)

 

BERITA TERKAIT