05 February 2020, 20:15 WIB

Perusahaan Telekomunikasi Harus Siap Hadapi Disrupsi Teknologi


Mediaindonesia.com | Humaniora

PERUSAHAAN telekominasi  dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan jaman. Salah satu caranya adalah dengan melakukan transformasi organisasi dan digital agar lebih lincah menghadapi gempuran disrupsi teknologi.  

Penyederhanaan organisasi perusahaan yang bertumpu pada keterbukaan terhadap budaya dan inovasi digital wajib dilakukan demi menjamin layanan yang prima dan kepuasan pelanggan.

Baca juga: Menkominfo Janji Segera Perbaiki Infrastruktur Telekomunikasi

Demikian kesimpulan dari Seminar Disrupsi Telekomunikasi: Beradaptasi atau Tenggelam yang diselenggarakan oleh ICT Institute pada Rabu (5/02). Hadir sebagai pembicara pada seminar tersebut Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi dan Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsono.

Heru mengatakan, disrupsi teknologi mengancam keberlangsungan operator telekomunikasi. Bisnis legacy sepertivoice dan SMS tidak lagi bisa diandalkan dan mulai tergantikan oleh layanan teknologi digital baru over-the-top (OTT). Disrupsi teknologi mengubah banyak hal, mulai dari bisnis, kompetisi, adopsi dan inovasi teknologi, hingga perubahan organisasi.

“Disrupsi tidak bisa dihindari dan harus dihadapi operator telekomunikasi. Supaya tetap bertahan dan bertumbuh, operator telekomunikasi perlu melakukan transformasi yang bertumpu pada tiga aspek, yakni merumuskan kembali visi dan kepemimpinan, inovasi dan adopsi teknologi baru, serta transformasi organisasi dan budaya digital,” ujar dia.

Nonot mengungkapkan, transformasi digital bagi operator telekomunikasi lebih dari sekadar menjalankan bisnis dengan teknologi digital, karena memerlukan adaptasi proses, sistem, danbudayaorganisasi. Operator telekomunikasi perlu melakukan transformasi bisnis inti agar menjadi trusted-partner dalam ekosistem digital.

“Transformasi operator telekomunikasi harus dimulai dengan perubahan mindset, transformasi dari layanan konvensional menjadi solusi digital, serta efisiensi organisasi yang berfokus menjawab kebutuhan pelanggan secara spesifik, dan bertindaksecaralebihcepat,” kata dia.

Menurut Heru, disrupsi mendorong semakin tingginya adopsi digital di seluruh segmen pelanggan.Disrupsidapat menjadi ancaman yang cukup berat, namun juga membuka peluang bagi operator telekomunikasi untuk mempercepat transformasinya yang fokus pada penyediaan layanan digital bagi konsumen dan pelaku bisnis. Kendati demikian, transformasi tersebut sangat bergantung pada kemampuan operator telekomunikasidalammerespon perubahan.

“Perusahaan telekomunikasi harus lebih fokusmenyediakan layanan-layanan yang simple dan mudah digunakan memanfaatkan teknologi digital,” tegas dia. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT