05 February 2020, 23:05 WIB

Drama Politik Warnai Pidato Trump


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada Selasa (4/2) malam waktu setempat. Pidato State of The Union  jelang keputusan sidang pemakzulan atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi kerja Kongres.

Dalam pidatonya yang berlangsung selama satu jam delapan belas menit, Trump mengemukakan argumennya untuk pemilihan kembali yang berpusat pada kekuatan ekonomi AS dan apa yang dia sebut selama masa jabatan pertamanya dengan “kembalinya Amerika yang hebat”.

“Kita bergerak maju dengan kecepatan yang tidak terbayangkan beberapa waktu lalu dan kita tidak akan pernah kembali,” kata Trump di depan Kongres, seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (5/2).

“Setiap warga negara dapat bergabung dalam kesuksesan Amerika yang tak tertandingi. Setiap Komunitas dapat mengambil bagian dalam kebangkitan Amerika yang luar biasa,” ucapnya.

Trump juga menyoroti upaya pemerintahannya untuk memangkas regulasi terutama aturan lingkungan yang membatasi pengembangan minyak dan gas. Ia pun menggembar-gemborkan kesepakatan perdagangan baru-baru ini, termasuk kesepakatan fase pertama dengan Tiongkok dan renegosiasi perjanjian dengan Kanada dan Meksiko.

Selain itu, Trump berulang kali menyinggung Demokrat, termasuk Kandidat Demokrat Bernie Sanders yang tengah berlomba-lomba untuk menantang Trump dalam pemilihan Presiden. “Kami tidak akan pernah membiarkan sosialisme menghancurkan layanan kesehatan Amerika!” kata Trump.

Usai pidato kenegaraan, Demokrat kemudian menyampaikan tanggapannya. Gubernur Gretchen Whitmer menuduh Presiden Donald Trump gagal memperbaiki permasalahan di Amerika. “Menggertak orang di Twitter tidak menyelesaikannya. Itu membuat marah mereka,” katanya.

Dalam pidato kenegaraan tersebut, Trump mengundang beberapa tamu istimewa, seperti Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, petugas patroli perbatasan senior, seorang wanita yang saudara lelakinya dibunuh oleh imigran ilegal pada 2018 dan mantan Kepala Polisi Caracas, Ivan Simonovis.

Acara pidato kenegaraan tersebut menyajikan “drama” bagi para pemimpin negara yang sudah terpecah belah atas sidang pemakzulan Trump tersebut. Wakil Presiden Mike Pence berdiri berdampingan dengan Ketua DPR AS (Partai Demokrat) Nancy Pelosi tepat di belakang Trump menyampaikan pidatonya di tengah ruangan. Keduanya nampak mengabaikan satu sama lain.

Keberpihakan terlihat jelas di Kongres. Sebelum pidato Trump dimulai, Pelosi sempat mengulurkan tangannya ke Trump. Sayangnya, Trump berbalik tanpa menyambut jabat tangan dari Pelosi. Di sisi lain, Partai Republik memuji Trump dan meneriakkan “Empat tahun lagi!” ketika Partai Demokrat berdiam.

Ketegangan Trump dan Pelosi pun memuncak saat Pelosi merobek salinan pidato dalam acara pidato kenegaraan tersebut. Pelosi mengatakan bahwa itu adalah hal yang sopan. “Itu adalah hal yang sopan dilakukan, dibanding alternatif lainnya,” katanya kepada wartawan. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT