05 February 2020, 17:45 WIB

Sumur Minyak Tua di Bojonegoro Semburkan Lumpur dan Gas


Ahmad Yakub | Nusantara

SEBUAH sumur minyak tua peninggalan Belanda di Dusun/Desa Batokan, Kecamatan  Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, mengeluarkan lumpur minyak dan gas, Rabu (5/2) siang. Semburan gas bercampur lumpur itu terjadi di halaman rumah warga setempat sejak tiga hari terakhir.

Genangan lumpur bercampur gas dan minyak itu sepanjang  2 meter dengan lebaran kubangan 2 meter, dan tinggi 5 cm hingga 10 cm. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, BPBD Bojonegoro bersama dinas terkait memasang garis pembatas.

Kalaksa BPBD Bojonegoro, Umar Ghoni mengatakan semburan itu terjadi sejak tiga hari terakhir. Tapi baru dilaporkan Rabu pagi (5/2). Menurut keterangan warga, semburan lumpur itu berasal dari sisa pengeboran migas tua peninggalan Belanda.  "Kami langsung turun untuk observasi," katanya.

Lokasi semburan lumur itu, lanjut dia, berada di Dusun Batokan, Desa Batokan, Kasiman di halaman rumah Suratman.  Fluida berupa air, lumpur, minyak dan gas keluar dari lubang sisa lubang pengeboran minyak tua.

Menurutnya, semburan lumpur bercampur minyak dan gas itu merupakan fenomena alam yang normal terjadi pada kawasan pengeboran migas.

Hal ini dikarenakan urutan fluida dari bawah ke atas yang ada di dalam lapisan batuan pembawa minyak reservoir memiliki sifat menekan ke permukaan melalui celah yang ada.  Semburan itu dipicu kondisi curah hujan tinggi menyebabkan air masuk kedalam lapisan reservoir tersebut.

Dalam kondisi demikian memicu volume fluida bertambah dan menekan keluar ke permukaan melalui celah yang ada. Termasuk, dari bekas lubang pengeboran minyak tua tradisional.

Kendati tidak ada korban, pihaknya bakal melakukan kajian atas fenomena alam tersebut.  Kajian itu dimaksudkan untuk mengetahui potensi zat berbahaya.

"Sehingga nanti diketahui apakah kandungan fluida yang keluar mengandung zat berbahaya atau tidak," tambahnya.

Jika dalam masa pemantauan selama 7 hari mendatang, lanjut dia, volume fluida yang keluar tidak berkurang atau kandungan fluida memiliki kandungan zat berbahaya maka, akan dikoordinasikan kepada instansi terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

Menurut dia, kondisi saat ini volume fluida dan kandungan fluida masih relatif aman. Diperkirakan, volume fluida akan berkurang seiring berkurangnya curah hujan. BPBD juga meminta desa setempat untuk membuat galian tanah seluas 2 meter kedalaman 2 meter untuk menampung fluida keluar dari sumur tersebut.

Hal ini dilakukan agar fluida yang keluar dapat terserap kembali ke tanah, caira yang keluar tidak mengganggu lingkungan sekitar. "kami juga telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamina Asset dalam hal ini," pungkasnya. (OL-13)

BERITA TERKAIT