05 February 2020, 16:44 WIB

Emil Siapkan Pengolahan Sampah Plastik di Jawa Barat


Bayu Anggoro | Nusantara

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar untuk skala industri. Tidak tanggung-tanggung, pengembangan ini akan dilakukan di seluruh wilayah provinsi tersebut.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, proyek ini bekerja sama dengan pihak swasta, selaku pemilik teknologi dalam pengolahan sampah plastik tersebut. Nilai investasinya mencapai Rp750 miliar per lokasi.

Jika berjalan mulus, pembangunannya akan dimulai pada pertengahan tahun ini di lima kawasan yakni Bandung Raya; Bogor Raya; Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang; Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan; serta Priangan timur (Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar). "Kalau ini berhasil, Jawa Barat akan menjadi provinsi pertama di Asia Tenggara yang punya sistem pengelolaan sampah plastik," kata Emil di
Bandung, Rabu (5/2).

Dia menambahkan, nantinya kapasitas di masing-masing pengolahan sampah itu mencapai ratusan ton dalam setiap hari. Sebagai contoh, Tempat Pembuangan Akhir Sampah Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat dan Galuga di Kabupaten Bogor masing-masingnya mampu mengonversi 600 ton sampah plastik per hari.

Dia, saat ini sedang dikerjakan DED untuk kelima lokasi tersebut. Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan membangun tempat pengolahan sampah plastik tersebut di Galuga untuk kawasan Bogor dan Sarimukti untuk kawasan Bandung. Masing-masing pengerjaannya memerlukan waktu sekitar 9 bulan. "Kita lihat mana yang duluan, Galuga atau Sarimukti," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dengan hadirnya tempat pengolahan sampah plastik ini, nantinya kawasan Bandung dan Bogor Raya memiliki dua tempat pengolahan sampah.

"Bogor ada Nambo (pengonversi sampah menjadi batubara) dan Galuga. Di Bandung ada Legok Nangka dan Sarimukti," katanya.

Menurut dia, keberadaan TPAS Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat masih dibutuhkan sehingga pihaknya tidak akan menutup seperti yang direncanakan oleh Ahmad Heryawan, gubernur Jawa Barat sebelum Emil.

Berdasarkan penelitian Institut Teknologi Bandung, tambah Emil, operasional TPAS Legok Nangka di Cicalengka, Kabupaten Bandung hanya mampu mengatasi 50% dari jumlah sampah yang dihasilkan dari kawasan Bandung Raya.

"Jadi Sarimukti harus tetap berfungsi, tapi tak landfield lagi," katanya.

Untuk menyiapkannya, pihaknya akan bekerjasama dengan Perhutani untuk menambah luasan lahan TPAS tersebut.

"Ada penambahan lahan 20 hektare lewat Perhutani," katanya.

Di tempat yang sama, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, Galuga memiliki 38 hektare yang bisa digunakan untuk pengolahan sampah plastik tersebut. "Kita ingin maksimalkan Galuga. Paling yang digunakan dua hektare untuk (pengolahan sampah) plastik," katanya.

Dia menjelaskan, dalam setiap harinya kawasan Bogor dan Depok menghasilkan sampah 500 ton. "(Sebanyak) 80 tonnya sampah plastik. Kami ingin ini dituntaskan juga," katanya. (BY/OL-10)

BERITA TERKAIT