05 February 2020, 13:13 WIB

MRT-LRT Berhimpitan 14 Km, Dishub Cari Alternatif


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

TRASE Lintas Raya Terpadu (LRT) Pulogadung-Kebayoran Lama diketahui berhimpitan dengan Moda Raya Terpadu (MRT) koridor Barat-Timur dengan rute Ujung Menteng-Kalideres hingga sepanjang 14 km. Rute LRT Pulogadung-Kemayoran yang lebih lanjut disebut rute 'Blue Line' itu memiliki panjang rute 19,8 km.

Kementerian Perhubungan sudah menyatakan tidak menyetujui trase LRT yang akan dibangun Dinas Perhubungan DKI dengan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), sehingga meminta ada penyesuaian.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo akan mencari alternatif rute untuk menyesuaikan dengan trase MRT koridor Barat-Timur.

"Menyesuaikan dengan rute. Sebenarnya pola transportasi makro ada penanda LRT untuk Blue Line dan Green Line. Ini dia yang kami lihat kembali untuk itu yang kami hidupkan," ungkap Syafrin di Balai Kota, Rabu (5/2).

Ia pun menegaskan akan tetap melanjutkan pembangunan rute tersebut yang ditaksir membutuhkan anggaran Rp10 triliun.

"Tetap lanjutkan, kebutuhan untuk angkutan umum massal sangat tinggi," tuturnya.

Baca juga:  2020, MRT Jakarta Targetkan 100 Ribu Penumpang Per Hari

Pemenuhan transportasi berbasis rel menurutnya wajib diupayakan karena akan menjadi dasar bagi transportasi publik.

Sebelumnya, Dishub DKI berencana memulai pembangunan LRT Pulogadung-Kebayoran Lama sepanjang 19,8 km dengan kebutuhan dana Rp10 triliun. Tahun ini dianggarkan dana di APBD DKI sebesar Rp154 miliar untuk pembebasan lahan.

Usul pembangunan LRT ini ditentang oleh Kemenhub karena trasenya berhimpitan dengan MRT rute Ujung Menteng-Kalideres yang ditargetkan dibangun 2024. Sebab, meski dibangun empat tahun lagi, trase MRT koridor barat-timur itu sudah matang studi kelayakan dan desainnya sejak 2013 silam dibantu oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).(OL-5)

BERITA TERKAIT