05 February 2020, 06:00 WIB

Masa Depan di Empat Aliran


Bayu Anggoro | Nusantara

TIDAK mudah mengurus lingkungan sungai. Kenyataan itulah yang harus dihadapi Jawa Barat.

"Tidak hanya satu. Kami harus mengurus lingkungan di empat aliran sungai, yakni Citarum, Cimanuk, Ciliwung, dan Citanduy," papar Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Prima Mayaningtias di Bandung, kemarin.

Andalan Jawa Barat untuk memperbaiki kualitas lingkungan sungai ialah program Ecovillage dan Kampung Iklim. Di lapangan, kerja ini diwujudkan dengan penghijauan, pengolahan sampah, dan peningkatan pemahaman masyarakat.

"Kami melakukan langkah konservasi untuk memperbaiki lingkungan. Dampak yang diharapkan kualitas lingkungan meningkat sehingga meminimalkan bencana, baik tanah longsor maupun banjir," kata Prima.

Dia menjelaskan program Ecovillage dilakukan untuk menciptakan masyarakat berbudaya lingkungan di empat aliran sungai. Selain oleh manusia, keempat aliran itu dikotori aktivitas industri, baik yang berskala besar maupun kecil.

Tahun ini anggaran senilai Rp827 juta digelontorkan ke 10 kabupaten dan kota. Adapun untuk program Kampung Iklim dikucurkan dana Rp300 juta. "Sampai akhir 2019, Kampung Iklim diterapkan di 401 desa dan kelurahan," jelasnya.

 

Hutan wisata

Lain di Jawa Barat, lain pula di Bali. Di Pulau Dewata, Pemerintah Kabupaten Bangli memilih melakukan pelestarian lingkungan dengan membangun destinasi wisata lewat penerapan kearifan lokal. Salah satunya dengan menetapkan hutan pinus Gelagalinggah di Desa/Kecamatan Kintamani sebagai objek wisata.

"Pengembangan wisata hutan harus tetap memperhatikan kearifan lokal serta tidak mengubah konsep alam. Untuk itu, perlu ada sinergi antara desa adat, desa dinas, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam proses mempercepat pembangunan destinasi pariwisata hutan pinus Gelagalinggah Lestari," ujar Bupati I Made Gianyar.

Melalui kegiatan Jumat Nikmat yang sudah dirintis sejak dua tahun lalu, Bupati Made Gianyar juga mengajak para pejabat dan ASN untuk mengunjungi dan menggali potensi alam sebagai destinasi wisata sekaligus mempromosikannya. "Saya mendukung peningkatan pariwisata desa."

Ancaman bencana juga jadi momok bagi Gubernur Jambi Fachrori Umar. "Untuk mencegah bencana, kami mengedepankan pencegahan dengan melibatkan banyak pihak, termasuk warga dan kalangan dunia usaha. Paradigmanya harus dan sudah berubah dari responsif ke aksi pencegahan," tegasnya.

Meningkatkan kualitas lingkungan, sekaligus mitigasi bencana, Pemkab Pesisir Selatan, Sumatra Barat, memilih program pembuatan lubang biopori di kawasan padat penduduk dan perumahan.

"Kami harus bergerak untuk menjaga keseimbangan air tanah sehingga terhindar dari ancaman kekeringan di musim kemarau dan mencegah banjir di musim hujan," jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jumsu Trisno.

Imbauan untuk menggelar program penghijauan dan rehabilitasi lahan juga dilontarkan Kepala BPBD Bangka Belitung Mikron Antariksa. "Untuk mengantisipasi banjir di masa mendatang, penghijauan, rehabilitasi lahan, serta pengelolaan sampah harus dilakukan. Kami sudah memulainya dengan menanam pohon di sekitar daerah aliran sungai." (RS/SL/YH/RF/JH/N-2)

BERITA TERKAIT