04 February 2020, 21:10 WIB

Oknum Napi Lapas Cipinang Diduga kendalikanPenyeludupan Sabu Cair


Tri Subarkah | Politik dan Hukum

PENYELUDUPAN sabu cair yang dikemas dalam mainan anak-anak berbentuk bola disinyalir dikendalikan oknum narapidana di Lapas Cipinang.

Menurut Kanit 5 Subdit 2 Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kompol Budi Setiadi mengungkapkan, oknum narapidana tersebut bernama Koko Aliyang. Hasil pemeriksaan menyebutkan tersangka Eko dan Ronald mengenal Koko Aliyang karena sebelumnya juga pernah di penjara,

''Dua orang, Eko sama Ronald itu (mantan) narapidana, bebasnya baru bulan Desember kemarin. Koko Aliyang yang nawarin kerja," katanya Selasa (4/2).

Budi menyebut para tersangka dijanjikan upah Rp30 juta dalam satu kali pengambilan sabu yang diketahui seberat 1.962 gram.

Sebelumnya, BNN bersama Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri juga mengungkap penyelundupan ganja dari Aceh ke Jakarta seberat kurang lebih 250 kilogram yang dikendalikan oleh Yayat, narapidana di Lapas Tangerang.

Terpisah, Kepala BNN Komjen Heru Winarko mengatakan, pihaknya bersama Kementrian Hukum dan HAM sedang membangun sebuah sistem untuk menangkal pengendalian narkotika dari balik lapas.

"Bagaimana lapas ini kita tiadakan masuknya IT di dalam sana. Itu yang digunakan, bagaimana pengamanan ini handphone. Malah yang kita ungkap dua tahun lalu wifi masuk ke lapas," kata Heru.

Heru menambahkan, pihaknya berharap di lapas ada alat peredam yang bida digunakan agar internet tidak bisa jalan.

"Ini sudah dilaksanakan di high risk, di Nusakambangan. Kita harapkan juga 21 lapas narkotika yang tersebar di Indonesia juga bisa menerapkan itu," tegasnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni juga mengatakan akan memberikan ketegasan terhadap Menkum HAM Yasonna Laoly terkait penggunaan ponsel oleh narapidana di dalam lapas.

"Kita minta kepada Menkum HAM untuk tepat aturan, untuk tegas melakukan aturan ini supaya menghindari permainan antara di dalam lapas dengan pengguna di luar ataupun jual beli (narkotik) di dalam. Nah ini kita hindari, karena komunikasi ini rentan," pungkas Sahroni. (OL-2)

BERITA TERKAIT