04 February 2020, 19:30 WIB

Kanker tidak Semata Masalah Kesehatan


Agus Utantoro | Humaniora

KANKER, ternyata tidak hanya menjadi masalah kesehatan, namun juga menjadi masalah ekonomi dan sosial di Indonesia. Data yang dirilis oleh GLOBOCAN, suatu badan epidemiologi kanker dibawah WHO, pada 2018, menyatakan kejadian kanker di Indonesia adalah sekitar 350.000 dengan angka kematian lebih dari 200.000 per tahun.

Kendati, layanan medis untuk deteksi serta penanganan kanker sudah cukup berkembang, namun pada kenyataannya  masih banyak penderita kanker yang terlambat dalam mendapatkan penanganan yang benar.

"Ada beberapa yang masih menjadi keprihatinan kami para klinisi, yakni keterlambatan penanganan pasien akibat rasa takut periksa dan pengobatan. Masih banyak pasien yang sudah terdiagnosis malah lari ke
pengobatan alternatif," jelas ahli hematologi onkologi medik FK-KMK UGM, dr. Mardiah Suci Hardianti, PhD, SpPD-KHOM, Selasa (4/2) di kampus UGM, Yogyakarta.

Menurut dia,  dari berbagai faktor keberhasilan pengobatan kanker, kondisi penyakit saat ditemukan menjadi faktor yang paling utama. Selain ketepatan pengobatan yang diberikan serta dukungan baik materi dan mental, terutama dari keluarga dan orang-orang terdekat pasien. Ada tiga modal utama dalam penanganan kanker, yaitu operasi, kemoterapi dan radioterapi.

Tidak Bisa Coba-coba

Penanganan ini lanjutnya, diperlukan karena kanker bukan hanya masalah benjolan namun juga penyakit yang bersifat sistemik atau dapat menyebar ke seluruh bagian tubuh. Penanganannya memerlukan kerjasama sebuah tim yang berusaha mengatasi kedua hal yang bersifat lokal dan hal yang bersifat sistemik.

Menanggapi beragam pertanyaan terkait terapi alternatif untuk menangani kanker, ia menegakan, kanker tidak bisa ditangani dengan terapi alternatif saja. Sebab kanker bukanlah sesuatu penyakit yang pantas untuk diatasi dengan coba-coba tanpa bukti ilmiah yang pasti.

"Keterlambatan akibat terapi yang coba-coba yang paling fatal adalah keterlambatan saat pasien bertemu dokter untuk menjalani pengobatan secara medis pertama kalinya hingga menimbulkan kesulitan-kesulitan
serta tentunya penurunan keberhasilan terapi," tegas Mardiah.

Ajakan global melawan kanker setiap 4 Februari yang pertama kali digagas oleh IUCC (Union for International Cancer Control) kini menjadi agenda  tahunan yang dikenal sebagai World Cancer Day (WCD). Sepanjang tahun 2019 hingga 2021, tema Hari Kanker Sedunia adalah 'I am  and I will' yang mempunyai inti ajakan dan dorongan kepada seluruh
kalangan masyarakat karena siapa pun memiliki kesempatan untuk mencegah dan menanggulangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kanker bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pendidikan atau edukasi perlu diberikan kepada masyarakat untuk melakukan upaya deteksi dini dengan melakukan cek kesehatan secara berkala serta memeriksakan diri segera jika merasa ada sesuatu gejala yang kemungkinan berhubungan dengan kanker.

"Semakin dini kanker ditemukan maka pengobatan akan semakin mudah dan keberhasilan pengobatan akan semakin tinggi. Upaya-upaya deteksi dini menjadi PR bagi kita semua, tidak hanya para pelayan kesehatan dalam
masyarakat," terangnya.

Di samping itu, ia juga menekankan pentingnya pencegahan, karena bagaimana pun mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk pencegahan kanker, kita disarankan untuk selalu berusaha melakukan gaya hidup sehat dan melakukan program CERDIK dan PATUH.

CERDIK sendiri merupakan singkatan dari langkah Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress. Sedangkan program PATUH meliputi Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, Tetap diet sehat dengan gizi seimbang, Upayakan beraktivitas fisik dengan aman dan Hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT