04 February 2020, 17:52 WIB

Erick Thohir Lantik Penangkap Tommy Soeharto Jadi Deputi


Faustinus Nua | Ekonomi

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir melantik empat pejabat madya di lingkungan Kementerian BUMN. Salah satunya adalah Irjen Carlo Brix Tewu yang ditunjuk menjadi Deputi Bidang Hukum dan Perundang-undangan.

Staf Ahli Kementerian BUMN Arya Sinulingga menerangkan pelantikan  polisi aktif tersebut merupakan upaya untuk mengurangi dispute di antara perusahaan-perusahaan BUMN.

Baca juga: Ini Anak Buah Sri Mulyani yang Pilih Jadi Staf Ahli Erick Thohir

Carlo sebelumnya merupakan Deputi V Kemenko Polhukam dinilai punya pengalaman yang cukup.

"Ada sekitar 20-an BUMN itu bermasalah di antara BUMN sendiri. Pak Carlo ini akan mengidentifikasi BUMN bermasalah, kalau bisa tidak sampai masuk ranah hukum," ungkap Arya seusai pelantikan pejabat madya Kementerian BUMN.

Menurutnya, Kementerian BUMN ingin membangun iklim bisnis perusahaan yang baik. Oleh karen itu, dibutuhkan sinergi yang kuat di antara sesama perusahaan milik negara ke depan ke depan.

"Ada BUMN saling mengadu. Ya cari saja BUMN apa, ambil aja kasusnya," tutur Arya.

Baca juga: Menteri Erick Puji Gerak BUMN Bantu WNI Terdampak Virus Corona

Carlo Tewu beserta timnya pada 2001 menangkap buronan Polri yang merupakan putra kelima mendiang mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Penangkapan itu lantaran Tommy menjadi terpidana kasus ruilslag Goro-Bulog.

Selain itu, Carlo Tewu dan timnya menangkap otak pengebom Bali pada 12 Oktober 2002, Imam Samudra.

Baca juga: Jiwasraya Mulai Bayar Utang di Bulan Maret

Erick Juga melantik Sekretaris Kementerian (sesmen) yang baru Susyanto. Sebelumnya Susyanto menjabat Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Pak Susyanto ini punya tugas, tugasnya dalam waktu dekat mengidentifikasi semua regulasi-regulasi yang menghambat bisnis BUMN," imbuh Arya.

Adapula partner lembaga konsultan dan auditor global Ernst & Young (EY) Nawal Nely yang dilantik menjadi Deputi Keuangan dan Manajemen Risiko. Dengan pengalaman tersebut diharapkan mengidentifikasi cash flow perusahaan BUMN agar berjalan baik.

"Untuk Bu Nawal dari Ernst & Young jadi deputi tersebut ditugaskan untuk menangani manajemen risiko terhadap perusahaan BUMN, jadi bisa dilihat nanti. Bagaimana supaya cashflow (arus kas) bagus, laporan keuangan itu sesuai dengan bagusnya cashflow," ungkap Arya.

Sementara untuk posisi Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM, kementerian menunjuk Loto Srinaita Ginting. Manta Direktur SUN Ditjen Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan itu diharapkan bisa membatu pengembangan bisnis perusahaan BUMN dan UMKM bersamaan. (X-15)
 

BERITA TERKAIT