04 February 2020, 09:30 WIB

Temukan Cara Baru Operasi Mata, Waldensius Raih Gelar Doktor


Agus Utantoro | Humaniora

RETINA adalah lapisan terdalam bola mata yang menyerupai membran tipis yang terdiri dari penyebaran  serabut-serabut syaraf optik dan sel-sel foto reseptor yang menangkap impuls dari luar dan mengubah gelombang impuls dan kemudian mengubah gelombang impuls menjadi suatu informasi dan kemudian dikirim ke otak untuk diintepretasikan menjadi informasi suatu objek.

Robekan yang terjadi pada retina dapat menyebabkan masuknya cairan subretina di antara bagian neurosensorik retina dan pigmen epitelium retina.

"Kondisi ini dikenal dengan istilah ablasio retina," kata dr Waldensius Girsang, SpM (K) di depan tim penguji dan penilai Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Senin (3/2).

Dalam ujian tersebut, Promovendus dr Waldensius Girsang berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul "Pengembangan Metode Baru Retinektomi Relaksasi Radial yang Efektif dengan Efek Samping Minimal pada Ablasio Retina dengan Vitreoretinopati Proliferatif Tingkat Lanjut"  dengan predikat cum laude hingga berhak menyandang gelar Doktor.

Baca juga: Biasakan Dosen Menulis di Jurnal Internasional

Dokter di Jakarta Eye Center (JEC) Eye Hospital Menteng dan Kedoya ini mengungkapkan kondisi ablasio retina akan menyebabkan terjadinya penurunan pengelihatan  dan viabilitas retina secara signifikan.

"Ablasio retina yang diawali dari diskontinuitas dari retina disebut sebagai tipe rhegmatogen dan merupakan tipe yang baling sering terjadi pada ablasio retina," ungkap dokter spesialis mata subspesialis vitreoretina itu.

Namun dari ablasio retina tipe rhegmatogen, imbuhnya, yang paling dikhawatirkan  terbentunya vitreoretinopati proliferatif atau PVR.

Ia  menjelaskan, PVR terjadi akibat adanya pembentukan lapisan sel ektopik  yang berada di area badan kaca atau sekitar retina.

"Secara teori, PVR menyebabkan kekakuan atau pemendekan retina dan secara fisika PVR  menyebabkan munculnya gaya tangensial yang menyebabkan retina menjauh dari tempat perlekatannya di koroid," jelasnya lagi.

Untuk mengembalikan retina yang telah mengalami ablasio dengan PVR ke posisi normal, katanya, diperlukan pengangkatan membran yang terbentuk dan dilanjutkan dengan operasi pemotongan retina atau retinektomi relaksasi yang kemudian akan menghilangkan gaya tangensial tersebut.

Pemotongan retina itu, jelasnya, hanya dilakukan pada retina yang sudah mengalami pemendekan akibat terbentuknya jaringan ikat berlebihan dan adanya kontraksi.

Wldensius Girsang menyebutkan, ablasio retina rhegmatogen yang disertai dengan PVR tergolong kasus yang cukup sulit dalam bidang bedah vitreoretina.

Penanganan ablasio retina rhegmatogen yang disertai PVR, lanjutnya, umumnya dilakukan dengan operasi menggunakan minyak silikon, namun harus dilakukan sebanyak dua kali.

Berbeda dengan model operasi yang dilakukan selama ini, Waldensius berhasil mengembangkan metode atau teknik operasi baru yang disebut retinektomi relaksasi radial atau penempelan retina dengan tamponade gas sebagai pengganti minyak silikon.

"Model operasi ini, lebih murah, lebih cepat dan lebih baik," jelasnya.

Dokter Wildensius mengaku sudah menerapkan operasi ini dan hasilnya cukup baik.

Pasien, lanjutnya, tidak perlu operasi dua kali sebagaimana  jika menggunakan minyak silikon.

Diakui selama ini semua hasil penelitian mengenai metode retinektomi melaporkan penggunaan irisan melingkar atau sirkumferensial pada kasus ablasio retina dengan PVR berat, namun hanya sedikit penelitian yang menggunakan retinektomi radial.

Walaupun metode retinektomi sudah banyak dilakukan namun belum ada metode retinektomi yang dilakukan berdasar kajian ilmiah geometris dan fisika yang mendasari bagaimana batasan pemotongan retina agar ablasio retina yang disertai PVR dapat melekat kembali ke pigmen epitelium retina.

Usai ujian doktor, Dr. dr. Wildensius Girsang, SpM (K) menambahkan, dokter mata di sejumlah negara, seperti di Rusia, Inggris dan lainnya telah meminta penjelasan tentang pelaksanaan operasi ini.

Sementara Presiden Komisaris JEC Eye Hospital, Dr. Darwan M Purba, SpM (K) menyatakan kegembiraannya, karena salah satu dokter ahli di rumah sakit mata ini meraih derajat doktor.

Diharapkan dengan bertambahnya doktor di JEC Eye Hospital ini akan semakin meningkatkan pengabdian dan layanan kepada masyarakat. (OL-1)

BERITA TERKAIT