04 February 2020, 08:20 WIB

Pendekatan Ekologis untuk Cegah Bencana


Dede Susianti | Nusantara

PRESIDEN Joko Widodo meminta pe­nang­gulangan bencana dilakukan ti­dak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik semata, te­­tapi juga mengedepankan pendekatan eko­­­­­logis. Perbaikan ekosistem lingkungan pen­­ting mendapat perhatian demi mencegah terulangnya bencana.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi seusai mela­kukan penanaman pohon di lokasi bekas bencana tanah longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kemarin.

“Jadi, di tempat-tempat yang terjadi bencana banjir dan utamanya yang tanah longsor pen­­dekatan kita bukan hanya pendekatan fi­sik, melainkan juga yang berkaitan dengan vegetatif seperti ini mulai kita dekati, sehingga untuk ekosistem yang ada tidak terganggu dan rusak karena memang kita perbaiki,” ujar­ Jokowi.

Presiden melakukan penanaman vetiver atau akar wangi di Desa Pasir Madang, Keca­mat­an Sukajaya, Kabupaten Bogor. Pada awal Januari lalu, Jokowi juga meninjau lokasi musibah tanah longsor dan banjir di wilayah itu, tetapi tidak bisa menjangkau Desa Pasir Madang lantaran masih terisolasi.

Dalam kunjungan kali ini, Jokowi didam­pingi para menterinya, seperti Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumah­an Rakyat Basuki Hadimuljono, serta Menko Bi­dang Pembangunan Manusia dan Kebuda­yaan Muhadjir Effendy. Ada pula Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Mo­nardo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Bupati Bogor Ade Yasin.

Tak hanya tanaman vetiver, pemerintah juga menyiapkan tanaman yang bernilai eko­nomi untuk dirawat masyarakat setempat, se­perti pohon jengkol, durian, sirsak, petai, dan sengon. Presiden meminta masyarakat me­manfaatkan tanaman itu dengan bijak dan tidak merusaknya.

“Apa yang kita siapkan tahap pertama ku­rang lebih 92.000 tanaman, baik itu yang un­­tuk sisi ekonominya, misalnya jengkol, du­rian, sirsak, petai, sengon, tetapi ada juga yang fungsi-fungsi untuk perbaikan ekologi, per­baikan ekosistem, yaitu vetiver. Ini yang akan terus kita dekati dengan cara-cara itu se­hingga kita harapkan dengan dua pendekat­an ini bencana terkait banjir, longsor, bisa kita selesaikan,” ujarnya.

 

Besar-besaran

Presiden menambahkan, perbaikan lingkungan untuk menanggulangi bencana juga akan diterapkan di tempat-tempat lain. Pe­me­rintah tahun ini melakukan rehabilitasi la­han secara besar-besaran dengan anggaran jumbo.

“Gede banget di seluruh Indonesia. Kalau tidak keliru Rp1,9 triliun. Untuk 2020 kita sudah petakan. Bukan hanya yang terkena bencana, melainkan juga (wilayah) yang debit airnya sudah turun seperti Danau Toba, kita siapkan jutaan tanaman untuk kita hijaukan kembali,” tandas Jokowi.

Terkait dengan proses rehabilitasi pasca­bencana tanah longsor di Sukajaya, Menteri Basuki menyatakan pihaknya tak menghentikan atau menarik personel dan peralatan meskipun masa tanggap darurat sudah berakhir 30 Januari lalu.

Presiden memang memerintahkan Kemen­te­­rian PU-Pera terus membantu penanganan ben­­cana kendati tugas mereka membuka se­­lu­ruh akses desa yang terisolasi telah ­ram­pung.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimato­­logi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya peningkatan curah hujan di beberapa wi­­layah termasuk di Ibu Kota Jakarta hingga tiga hari ke depan.

Kepala Bagian Humas BMKG Taufan ­Maulana me­minta Badan Penanggulangan Bencana Dae­rah dan semua pihak terkait mewaspadai dan mengantisipasi kondisi tersebut. (Dhk/Put/Ssr/Wan/Ata/X-8)

BERITA TERKAIT