03 February 2020, 23:02 WIB

Menkes: Hoaks Lebih Berbahaya Dari Virus Corona


Dero Iqbal Mahendra | Humaniora

MENTERI Kesehatan Terawan Agus Putranto mengaku Indonesia sudah sangat siap dalam menghadapi situasi yang ada terkait virus Corona. Namun ia melihat bahwa dibandingkan virus corona-nya, pemberitaan atau bahkan informasi hoaks memiliki dampak yang lebih berbahaya.

"Dibandingkan virusnya lebih berbahaya informasinya, terutama yang hoaks yang banyak beredar. Menurut saya yang paling parah itu hoaks yang belum lama ini yang disebutkan ada empat orang yang meninggal yang ternyata hanya simulasi. Ini berat, menurut saya itu pemotongan skenario dan gambar yang tidak pas. Ini tentu menimbulkan kegelisahan banyak orang, padahal itu hanya simulasi tetapi kesannya seperti sebetulnya," keluh Terawan di Jakarta, Senin (3/2).

Lebih lanjut dalam kaitan adanya tudingan pemerintah lambat dalam melakukan evakuasi menurutnya sebagai suatu yang tidak tepat. Pemerintah sangat aktif dalam berkomunikasi dengan pihak Tiongkok agar dapat melakukan proses evakuasi secepatnya dan yang menentukan waktunya memang dari pihak Tiongkok.

Terawan juga menjelaskan bukan hal yang mudah dalam melakukan evakuasi warga negara Indonesia di Wuhan, sebab banyak yang tinggalnya tidak di satu tempat. Bahkan menurutnya ada yang tinggal 500 km dari Kota Wuhan dan memberikan rasa kesadaran warga negara untuk pulang pun bukan hal yang mudah. Terbukti ada empat orang yang tidak mau pulang dan memberikan surat pernyataan tidak akan kemana mana.

"Harus disadari public health of emergency national concern itu sesungguhnya membuat seseorang tidak bisa keluar dari negara tersebut. Tetapi kalau kita baca dari yang dikeluarkan WHO pertama itu adalah temporary public helath emergency of international concern. Artinya dibuka sementara agar warga kita bisa keluar, setelah itu yah total tidak bisa masuk dan tidak bisa keluar. Sehingga timing, ketepatan akan jadwal penerbangan semuanya sudah diatur, karena itu waktu yang kita dapatkan untuk mempersiapkan hampir kurang dari 1x24 jam. Kita juga menungu izin dari pemerintah Tiongkok juga sehingga baru dievakuasi kemarin," terang Terawan.

Untuk empat orang yang tidak mau pulang, Terawan mengaku tidak mempersoalkan hal tersebut. Terawan justru mempertanyakan resiko yang dipertanyakan berdasarkan sudut pandang siapa. Terawan menjelaskan mereka tentu mengetahui kondisi persis di Wuhan dan masyarakat lainnya hanya dari pemberitaan sehingga jika merasa lebih aman dibiarkan saja. Kondisi tersebut termasuk untuk seluruh warga Indonesia di Tiongkok, jika memang ingin tinggal.

Sedangkan untuk warga yang tidak lolos screening kesehatan disebut Terawan merupakan konsekuensi kondisi dari public health emergency international concern. Tertuang di sana 'tidak boleh sebuah negara memberangkatkan warga negara yang sakit atau memberangkatkan orang dalam kondisi sakit'.

"Ini sakit apapun, karena itu dilakukan screening yang tepat agar tidak terjadi pelanggaran dari public health emergency international concern. Jadi mereka kena screaning di pemeriksaannya sehingga tidak bisa pergi, bahkan sakit mata atau pencernaan sekalipun, jadi bukan corona," jelas Terawan.(OL-4)

BERITA TERKAIT