03 February 2020, 21:43 WIB

Pemerintah Harus Dukung Karya Ilmiah di Jurnal Internasional


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

DIREKTUR Pendidikan Yayasan Sukma Victor Yasadhana menilai, kebijakan yang mewajibkan dosen untuk mempublikasikan karya ilmiahnya dalam jurnal internasional sebagai syarat kenaikan jabatan merupakan sebuah upaya standarisasi/perbaikan standar pendidikan tinggi.

"Menurut saya yang penting dilihat dari kebijakan mewajibkan adalah kita punya ukuran yang bisa dipertanggung jawabkan tentang hasil-hasil kapasitas keilmuan yang bisa dikenal dunia," kata Victor saat dihubungi Media Indonesia, Senin (3/1).

Victor menilai, jika pemerintah menghapus kebijakan tersebut, justru menegaskan bahwa budaya ilmiah, khususnya kemampuan menulis para akademisi semakin lemah. "Kemunduran kalau ini harus ditiadakan. Kita harus melihat sebagai standar yang harus dilakukan. Kalalau faktanya kita tidak bisa mencapai standar itu, bukan standarnya yang diturunkan tapi usahanya yang dibesarkan," tegasnya.

Dia memandang, yang justru perlu dilakukan pemerintah adalah mencari cara untuk mendorong/mendukung para dosen agar semakin bersemangat mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional, dibandingkan menghapus kebijakan tersebut.

"Misalnya, apa yang bisa dibantu, apa yang bisa difasilitasi negara untuk mendorong tenaga pengajar kita di perguruan tinggu untuk lebih maju kapasitas menulis, kemampuan berbahasa, dan seterusnya. Itu yang mestinya perlu dilihat," ujarnya.

Selain itu, dukungan berupa kelonggaran aturan yang dapat memudahkan dosen untuk menyelesaikan karya ilmiahnya juga diperlukan.

"Aturan-aturan yang membuat tradisi keilmuan terutama menulis jadi berat, misalnya tenaga pengajar benar-benar dihabiskan tenaganya dengan beban mengajar yang lebih. Tidak ada tradisi cuti atau menyepi untuk menulis. Saya kira di sini tidak ada itu, sementara kalau kita lihat tradisi di negara maju ada," jelasnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT