04 February 2020, 02:50 WIB

Senator Republik Siap Bebaskan Trump


MI | Internasional

SIDANG pemakzulan Presiden Donald Trump, kemarin, kembali berlangsung di Senat AS dan memasuki sesi tanya-jawab terakhir. Trump kemungkinan besar bebas dari segala tuduhan yang dilancarkan, tapi kubu Partai Demokrat menilai sidang tidak sah karena Senat AS tidak memberi kesempatan munculnya saksi baru.

“Senat kali ini tidak memenuhi tanggung jawabnya, berpaling dari kebenaran dan malah menyelenggarakan pengadilan palsu,” kata pemimpin kubu Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, setelah pihaknya gagal memanggil mantan penasihat keamanan nasional John Bolton sebagai saksi.

Partai Demokrat sebelumnya berharap bisa memanggil John Bolton, pejabat Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney, dan sosok kunci lainnya yang terlibat dalam skandal Ukraina.

Dalam sebuah buku yang akan terbit, Bolton mengatakan bahwa Trump memang sengaja menekan Ukraina dengan dana bantuan militer agar Ukraina bersedia menginvestigasi Joe Biden, lawan politik Trump. Kesaksian Bolton tersebut jelas akan menguatkan klaim melawan Trump.

Saat ini Senat AS dikuasai Partai Republik, selaku pendukung Trump, dengan jumlah 53 kursi, sedangkan Demokrat hanya memiliki 47 kursi. Diperlukan 2/3  suara atau 67 senator untuk bisa memberhentikan Trump.

Adam Schiff, selaku ketua tim penuntut Demokrat di Senat AS, menyatakan sebenarnya senator di kedua pihak telah mengakui bahwa Demokrat mampu membuktikan kasus mereka melawan Presiden.

“Tapi saya tidak akan membiarkan para senator lolos. Kami masih akan tampil di Senat dan menjelaskan meng­apa Presiden perlu dicopot. Terserah kepada para senator untuk membuat keputusan akhir dan mereka akan bertanggung jawab untuk itu,” tegas Schiff.

Sementara itu,  dua senator Republik, Lamar Alexander dan Joni Ernst, menyatakan perbuatan Trump memang memprihatinkan, tapi belum sampai jadi alasan untuk memecatnya.

“Terserah kepada warga Amerika untuk memutuskan soal perbuatan Trump. Saya sendiri akan memilih untuk membebaskannya,” ungkap Ernst.

Dengan demikian, hanya dua senator Republik, yaitu Mitt Romney asal Utah dan Susan Collins asal Maine yang bergabung dengan Demokrat soal perlunya memanggil saksi baru. Menurut keduanya, pemanggilan saksi sudah biasa dalam sejarah sidang pemakzulan. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT