03 February 2020, 17:54 WIB

Virus Korona bisa Berimbas ke Perekonomian Indonesia


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

KEPALA Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan virus korona bisa berdampak terhadap perekonomian Indonesia jika berlangsung lebih dari dua bulan. 

"Ini kan virus yang dampaknya bukan hanya di Indonesia, sudah ada di beberapa negara. Kalau ditanya dampaknya secara langsung, sekarang belum. Tapi kalau ini bertahan terus sampai dengan 2-3 bulan, otomatis ada dampaknya," kata Bahlil kepada pewarta di Wisma Antara, Jakarta, Senin (3/2).

Baca juga: BPS: Jumlah Wisman Desember 2019 Capai 1,3 Juta Orang

Ia juga menuturkan, hingga saat ini realisasi investasi dari Tiongkok ke dalam negeri tidak terganggu. Namun, bila virus tersebut terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan, dipastikan dampaknya akan terasa.

"Kalau sudah di atas 2 bulan, ini perlu kita kaji dan pasti ada dampaknya. Kecil atau besar, saya belum bisa mengatakan," terangnya.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan virus korona menambahkan persoalan ketidakpastian global yang baru.

"Kalau kita lihat, stock market di Tiongkok sudah drop 9%, kemudian demand oil untuk Tiongkok sudah drop 20%, itu jumlah besar dan kita akan melihat berapa sebetulnya efeknya selain tourism," jelasnya.

Ditutupnya akses penerbangan dari dan ke Tiongkok, disebut Airlangga, juga akan sangat berpengaruh. Pun demikian, dengan rantai pasokan akan mendapat imbasnya. Akan tetapi, lanjut Airlangga, Indonesia masih beruntung lantaran di sektor otomotif Indonesia tidak terlalu bergantung pada Negeri Tirai Bambu.

Baca juga: Pelantikan ISEI Malang untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

"Kita masih agak beruntung karena pengaruh spare part Wuhan tidak begitu berpengaruh pada kita. Tapi otomotif dan elektronik dunia yang berpengaruh," imbuhnya.

"Kita akan melihat dampak terhadap industri lain seperti makanan, minuman (mamin) dan lainnya. Tapi tentu Indonesia resilience (berdaya tahan) karena impor dalam bentuk mamin ataupun bahan baku kita kebanyakkan bukan dari Tiongkok," pungkas Airlangga. (OL-6)

BERITA TERKAIT