03 February 2020, 17:19 WIB

Pelapor Mendag Merasa Ditipu Rp500 Miliar


Tri subarkah | Politik dan Hukum

PELAPOR Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, yakni Yulius Isyudianto merasa telah ditipu Rp500 miliar. Menurut kuasa hukum Yulius, Husdi Herman, kasus tersebut bermula pada tahun 2000 saat Agus, Yulius, dan rekannya yang lain yakni, Miming Leonardo serta Sardjono mengikuti tender proyek penambangan, pengangkutan dan pemuatan bijih nikel di Pulau Pakai dan Tanjung Buli milik PT Antam (Persereo).

Para pihak sepakat menggunakan PT Yudhistira Bumi Bhakti milik Yulius Isyudianto sebagai badan usaha untuk mengikuti tender proyek tersebut. Setelah dinyatakan menang tender, maka kepemilikan saham PT Yudistira Bumi Bhakti dirombak. Yulius menjual 100% sahamnya dengan harga Rp50 juta kepada Agus dan Miming.

"Para pihak sepakat melakukan perubahan kepemilikan saham PT Yudistira di mana pihak pertama (Agus) dan pihak kedua (Miming) yaitu sebesar 70%, pihak ketiga (Yulius) 17,5% dan pihak keempat (Sardjono) sebesar 12,5%. Saham pihak ketiga dan pihak keempat merupakan saham good will, yaitu saham kosong. Dan saham tersebut akan efektif berlaku menjadi saham isi apabila semua hutang investasi telah dilunasi dalam proyek tersebut," kata Husdi kepada wartawan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (3/2).

Nota Kesepakatan juga dilakukan antara Juandy Tanumihardja sebagai Direktur dan Miming sebagai Komisari PT Yudistira Bumi Bhakti dengan Yulius Isyudianto dkk pada 13 Maret 2001. Menurut Husdi, salah satu isi MoU tersebut adalah kesepaktan pembagian keuntungan bersih setelah pajak dari proyek untuk PT Yudistira Bumi Bhakti untuk Yulius dkk sebesar 30%. Pengerjaan proyek mulai dilakukn pada 12 Agustus 2000.

13 tahun kemudian, rekan Yulius, yakni Rafli Ananta Murad bertanya kepada Yulius ihwal bagi hasil keuntungan sesuai dengan MoU. Husdi mengatakan bahwa setiap tahun kliennya menanyakan hal tersebut kepada Juandy. Namun Juandy selalu menjawab bahwa sampai tahun 2012 perusahaan mengalami kerugian dan tidak ada keuntungan yang dapat dibagikan.

"Ternyata data Pak Rafly berbeda. Dikeluarkanlah laptop dan ditunjukkan ke Pak Yulius bahwa per 31 Desember 2012 keuntungan kumulatif PT Yudistira mencapai USD280 juta sekian. Sehingga bagian keuntungan Pak Yulius dkk USD84 juta sekian," papar Husdi.

Berangkat dari hal tersebut, Yulius dkk melaporkan Agus, Juandy, dan Miming ke pihak kepolisian atas tindak pidana penipuan dan atau penggelapan. Namun kedua belah pihak sepakat berdamai setelah Yulius menerima perjanjian perdamaian yang ditawarkan oleh Agus. Dalam perjanjian tersebut, Agus berjanji secara lisan akan memberikan Rp500 miliar kepada Yulius dkk setelah perjanjian perdamaian ditandatangani.

Salah satu isi perjanjian tertulis tersebut, terang Husdi, adalah kompensasi perdamaian kepada Yulius sebesar Rp30 miliar yang akan dibayarkan oleh PT Yudistira. Selain itu, Yulius dkk jufa harus mencabut laporan polisi, serta tidak saling menuntut. Apabila pihak Yulius melakukan tindakan hukum, maka Agus dkk dapat menganggap Yulius melakukan tindak pidana pemerasan.

"Kurang lebih satu bulan setelah perjanjian perdamaian, Pak Yulius menagih janjinya Pak AS. Setelah nota kesepakanan ditandatangani. Setelah diminta oleh Pak Yulius, Pak Agus dengan santainya menjawab, Kan nota perdamaian sudah ditandatangan, sudah selesai Pak Yulius," tandas Husdi.

Oleh sebab itu, Yulius melaporkan Agus, Juandy, dan Miming ke Breskrim Polri atas dugaan Tindak Pidana Penipuan/Perbuatan Curang sebagaimana yang termaktub dalam UU No 1 Tahun 1946 tentang KUHP, Pasal 378 KUHP, Penggelapan UU No 1 Tahun 1946 tentang KUHP, Pasal 372 KUHP.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memilih bungkam terkait kasus dugaan penipuan Rp500 miliar yang dituduhkan kepadanya. Dia enggan mengomentari dugaan tuduhan penipuan tersebut ketika ditanya wartawan usai inspeksi mendadak (sidak) bersama Menteri Pertanian di Pasar Senen, Senin (3/2).(OL-4)

BERITA TERKAIT