31 January 2020, 19:00 WIB

GreatDay HR Dorong Pengelolaan SDM Berbasis Digital


Deri Dahuri | Teknologi

GreatDay HR Dorong Pengelolaan Sumber Daya Manusia Berbasis Digital

DALAM 25 tahun ke depan, populasi penduduk Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan dari 260 juta jiwa menjadi 311 juta jiwa. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat keempati negara dengan populasi terbanyaki dunia setelah Tiongkoka, India, dan Amerika Serikat (AS).

Saat pidato kenegaraan dalam Sidang DPD-DPR RI 2019, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa peningkatan demografis penduduk Indonesia yang tinggi merupakan peluang yang dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Presiden, pada 2020, kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berfokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengarah pada ekonomi digital. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh International Institute for Management Development (IMD), saat ini Indonesia masih berada di posisi ke-62 dalam persaingan digital tingkat internasional.

Hal tersebut menandakan bahwa di balik banyaknya komunitas startup yang bermunculan di Indonesia, secara umum negara kita masih terjebak dalam sistem pengelolaan SDM yang konvensional. 

Menanggapi visi pemerintah terhadap pentingnya peningkatan SDM, GreatDay HR mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi sektor SDM di Indonesia.

GreatDay HR sebagai pionir dari mobile HR application melihat kesadaran akan pentingnya pengelolaan SDM masih begitu minim, dan hal ini akan berujung pada minimnya alokasi pendanaan untuk pengelolaan SDM dan juga kurangnya inovasi dalam sektor tersebut. 

Gordon Enns, Founder dan CEO GreatDay HR, mengatakan bahwa seiring dengan perkembangan teknologi digital saat ini, merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk terus berinovasi dan bertransformasi secara digital, termasuk dalam hal pengelolaan SDM.

 Namun demikian masih banyak perusahaan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia belum memaksimalkan teknologi yang ada untuk dapat memiliki sistem pengelolaan SDM yang baik. 

“Sistem aplikasi GreatDay HR merupakan mobile-based HR application, yang dirancang untuk memberi kemudahan pengelolaan data karyawan bagi berbagai macam jenis perusahaan di Indonesia,” kata Enns pada jumpa pers di Jakarta, Jumat (31/1).

“Kami menawarkan solusi untuk mempermudah kegiatan pengelolaan sumber daya manusia seperti laporan kehadiran, pengelolaan cuti, penyebaran slip gaji, dan untuk klaim pengeluaran,” paparnya.

“Selain itu, para karyawan juga dapat menerima berbagai informasi melalui aplikasi GreatDay HR, seperti persetujuan dan pengumuman dari perusahaan, status kehadiran dan aktivitas, dan juga update-update kegiatan di media sosial,” jelas Enns. 

Setiap karyawan yang sudah terdaftar di dalam aplikasi GreatDay HR,  kata Enns, dapat membuat dan mengelola profil mereka sendiri dengan mudah. Melalui tampilan aplikasi yang baru, setiap karyawan dapat melihat semua fitur langsung dari halaman depan.

“Proses absensi dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, serta otomatis terintegrasi dalam sistem penggajian perusahaan. Pengaturan jadwal kerja juga menjadi begitu mudah, dimana perusahaan dan karyawan dapat mengatur jadwal kerja yang terintegrasi dengan modul penggajian,” jelas Enns.

GreatDay HR menyadari bahwa perkembangan media sosial (medsos) saat ini sudah semakin pesat dan sangat diminati. Oleh karena itu GreatDay HR memanfaatkan kekuatan dari medsos dan mengintegrasikannya ke dalam platform.

“Setiap karyawan dapat membagikan update mengenai diri mereka ataupun hasil pekerjaan yang telah dilakukan, dan merka bisa mendapatkan ‘likes’ dari followers maupun rekan kerja mereka. Melalui perhitungan ‘likes’, karyawan bisa mendapatkan bonus atau tambahan poin agar menjadi karyawan terbaik,” tutur Enns 

Penerapan sistem pengelolaan SDM manusia yang baik tidak hanya membawa dampak positif bagi perusahaan, lebih dari itu, hal ini juga akan membawa Indonesia selangkah lebih maju dalam inovasi digital.

GreatDay HR membantu perusahaan meninggalkan cara lama yang tidak efektif menuju cara baru yang lebih produktif dalam mengelola tenaga kerja mereka. (OL-09)

BERITA TERKAIT