03 February 2020, 15:52 WIB

BKR Brothers, Menggali Kisah Humanisme Lewat Podcast


Fathurrozak | Weekend


KEBERADAAN Podcast kini kian menjamur. Platform mirip radio itu berisi siaran audio (kanal siniar) dengan beragam topik. Para podcaster pun beragam dan makin kreatif. Salah satunya adalah BKR Brothers.

Sebelum mendeklarasikan nama resmi mereka sebagai BKR Brothers, ketiga podcaster yang tumbuh dari dunia radio itu tenar dengan nama Podcast Boker. Semakin berkembangnya potensi bisnis yang muncul, perubahan nama pun dilakukan.

Edisi perdana Podcast Boker saat itu mengudara pada Juni 2019. Saat episode debut itu, formasi masih diisi oleh dua orang, Ryo Wicaksono dan Bobby Mandela. Namun, jauh sebelum itu, sebenarnya Ryo pernah menggagas untuk membuat podcast) bersama Molen Kasetra. Ketika itu, Molen tengah menempuh studi di Singapura. Tawaran untuk membuat kanal podcast datang dari Box2Box Media Network, yang membawahi beberapa kanal siniar, termasuk saat ini BKR Brothers.

Menurut cerita Ryo, awalnya dia dan Molen siaran (radio) bareng. Namun, pada 2011, Molen berhenti siaran. Dari situ mereka sempat ingin buat podcast. "Tapi, karena keterbatasan waktu, alat, dan kita enggak tahu alat apa yang mumpuni. Ide tenggelam aja. Awal tahun lalu pada bulan Maret, ngobrol sama Tio (Utomo) dari Box2Box, ditawari untuk bikin. Saat itu, ketika ditanya selain Molen yang bisa gue ajak siapa, gue kepikiran ajak Bobby,” papar Ryo saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu, (29/1).

Sejak episode dua hingga saat ini, BKR Brothers mantap dengan formasi tiga podcaster. Pergantian nama, menurut Ryo, juga perlu ketika mendapat respons dari beberapa pihak yang mengutarakan nama mereka bisa saja menghambat peluang bisnis yang muncul. Lalu, memasuki akhir tahun, mereka pun tampil dengan nama resmi BKR Brothers.

“Ternyata yang berangkat dari iseng-iseng ini malah jadi ada cuan (uang)-nya. Dan menurut beberapa pihak, ‘percuanan’ bisa jadi terhambat karena nama. Enggak satu atau dua figur yang ganti nama dan tetap bisa-bisa aja kok. Walau nama kami sudah cukup melekat. Kalau pendengar kami tetap menyebut dengan nama awal ya tidak apa-apa. Namun sekarang nama resmi kami BKR Brothers,” tambah Ryo.

Siniar yang diunggah sekali tiap pekan ini pun kini mendapat atensi pendengar. Rata-rata, dari data yang disajikan Bobby, tiap episodenya didengarkan hingga 70 ribu pendengar. Pada awal tahun ini, mereka berada di peringkat keempat daftar tangga siniar Spotify Indonesia. Latar belakang bekerja di industri radio, juga cukup membantu saat mereka merambah siniar. Selain teknik, mereka juga diuntungkan dengan jaringan yang memudahkan untuk mendatangkan tamu-tamu yang diundang ke BKR.

Ryo yang saat ini masih siaran di Jak FM, mengakui sedikit banyak para podcaster yang berangkat dari latar belakang penyiaran membantu proses perekaman dalam siniar. Terlebih bila itu dilakukan lebih dari satu orang. Teknik berbicara, melontarkan punchline, waktu mendengarkan lawan bicara, merumuskan topik, dan kemampuan bercerita (storytelling) menjadi makanan sehari-hari.

Namun, Molen memberi catatan. Paling penting dari teknik yang sudah dikuasai ialah karakter podcaster. “Tapi yang kadang menyulitkan ialah kalau lo punya teknik itu, tetapi ketika dihadapkan dengan mikrofon dan saat rekaman, seringnya orang berubah. Seperti ada theatre of mind yang tiba-tiba mengubah karakter. Itu yang lebih penting dari pada teknik, ketika mik dinyalakan atau tidak dinayalakan, karakter kita seharusnya sama.” 

Sisi Humanisme

Dari konsistensi yang berujung pada naiknya pamor ketiganya lewat BKR, juga sekaligus memengaruhi beberapa podcaster mengikuti jejak mereka. Diakui Bobby, kini ia banyak menjumpai kanal siniar yang dalam pengemasannya serupa dengan BKR Brothers.

Gue melihat, bukannya self proclaimed atau bagaimana ya. Ada banyak yang bahkan sampai profile picture-nya sama kayak kita. Dan itu lebih dati satu, style-nya sama. Gue seneng sih bisa encourage orang untuk bikin podcast biar makin ramai. Karena yang gue lihat di podcast enggak ada persaingan sejauh ini.”

Dalam pemilihan topik tiap episode pun, BKR berusaha menghindari isu yang justru tengah ramai diperbincangkan. Mereka menggali topik yang bersifat timeless. Ini sebagai tawaran ketika banyak medium arus utama yang sudah mengupas banyak topik, BKR Brothers mengambil sisi-sisi keseharian yang tetap memiliki nilai dan kedekatan.

Misalnya, pada episode (16/7) tahun lalu atau episode ke-7, mereka mendatangkan manajer Barasuara dan Danilla Riyadi, yang juga sekaligus bertindak sebagai salah satu direktur program festival musik Synchronize Festival, Kiki Aulia Ucup. Dalam episode itu, mereka menggali pengalaman Ucup saat mendatangkan Raja Dangdut Rhoma Irama ke festival musiknya. Mulai dari membahas harga, hingga impresi Ucup saat beberapa kali bertamu ke kediaman Rhoma, dan melihat dinamika fans Soneta. Atau, pada episode 15, yang diunggah pada (9/9), ketiganya membahas terkait era saat handphone belum marak. Dan berpengaruh pada cara generasi zaman tersebut menjalin hubungan asmara. Hingga Senin, (3/2), BKR sudah mengudarakan ke-37 rekaman audio siniar mereka.

“Karakteristik menurut gue, kita bertiga beda-beda. Lalu, sudut pandang kita juga berbeda. Terkait topik, ya se-random itu. Tidak bisa ditebak. Habis lucu-lucuan, lalu bisa nangis, besoknya bisa serius. Besoknya tertawa lagi. Kami juga tidak mengklaim bahwa kami melucu ya, kita tidak melucu dan ini bukan podcast lucu,” ungkap Bobby yang juga siaran di Hardrock FM. (M-4)

BERITA TERKAIT