03 February 2020, 15:15 WIB

Rektor UI: Pembangunan Kota Jangan Merusak Desa


Emir Chairullah | Humaniora

PESATNYA pembangunan perkotaan di Indonesia diharapkan tidak menghancurkan kawasan perdesaan. Selain bisa menghilangkan lahan hijau, pembangunan yang hanya memfokuskan perkotaan tidak pula menghilangkan ketimpangan.

“Kalau sektor perkotaan dibiarkan terus maju, lama-lama akan menggerus perdesaan. Karena itu butuh keseimbangan antara perkotaan dan perdesaan,” kata Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro usai bertemu Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Kantor Wapres, Senin (3/2)..

Baca juga: 8.300 Anak Balita di Babel masih Tengkes

Ia menjelaskan, untuk membuat keseimbangan, perlu adanya pemberdayaan kawasan perdesaan. Selain memberikan ide baru dan keahlian, masyarakat perdesaan perlu diajarkan untuk hidup berkecukupan tanpa perlu berlebihan, termasuk juga menghormati lingkungan. 

“Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk melakukan pemberdayaan pada pedesaan adalah pesantren. Karena di pesantren itu diajarkan hampir semua keahlian, tidak hanya pertanian namun ide-ide baru terutama teknologi,” paparnya.

Ia menjelaskan konsep keseimbangan antara kota dan desa sudah didengungkan di Thailand.  Jika tidak ada keseimbangan antara keduanya, yang terjadi adalah kerusakan lingkungan. Dengan Wapres Ma'ruf Amin, tambah Ari, pihaknya mendiskusikan dampak negatif akibat pembangunan yang merusak lingkungan. Salah satu ialah pertambangan liar adalah yang menghasilkan mercury yang merusak aliran sungai. 

“Aliran sungainya kemudian masuk ke persawahan yang dampaknya bisa menimbulkan bayi cacat atau paling ini adalah penurunan kecerdasan dari anak-anak,” ujarnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT