03 February 2020, 09:00 WIB

Cegah Virus Korona dengan Tingkatkan Daya Tahan


Eni Kartinah | Humaniora

PENYEBARAN virus korona tipe baru atau novel coronavirus (2019-nCov) terus bertambah. Bahkan pada Kamis (30/1), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status Darurat International. 

Di Tiongkok per 1 Februari 2020 pukul 13.00 WIB mencapai 11.791 kasus dan 259 pasien meninggal dunia, dan di luar Tiongkokn juga terus melaporkan kasus positif virus korona.

Gejala orang yang terkena virus korona baru ini adalah demam, batuk, sesak napas, serta mengalami gangguan pernapasan ringan hingga berat. Pada kasus yang lebih parah lagi, infeksi ini menyebabkan pneumonia hingga kematian.

Menteri Kesehatan (Menkes) dr. Terawan Agus Putranto telah meminta masyarakat Indonesia untuk menjaga diri sendiri dengan berperilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah infeksi virus corona serta memperkuat daya tahan tubuh.

Menurut Menkes, kuncinya tetap terus berdoa, tetap berpikir positif, dan jaga imunitas tubuh. Kalau daya tahan tubuh baik tidak mudah terkena virus.

Tubuh memiliki sistem pertahanan, sebagai mekanisme alami untuk melawan ancaman dari masuknya benda asing dari luar, seperti virus, bakteri, dan jamur.  Bila daya tahan tubuh lemah, benda asing yang memicu penyakit akan mudah masuk dan menyebabkan terkena infeksi dan muncul beberapa gejala misalnya bersin, demam dan lainnya.

Dengan merebaknya wabah virus korona yang mudah menyebar dan belum ditemukan vaksinnya, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah tindakan pencegahan, secara eksternal maupun internal.

Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI menyarankan pencegahan dapat dilakukan secara eksternal dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat.

“Contohnya dengan konsumsi makanan gizi seimbang, rajin berolahraga, istirahat yang cukup, rajin mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker, terutama bila berada di tengah keramaian,” kata Iris Rengganis.

“Sementara pencegahan internal dapat dilakukan dengan memodulasi (mengatur) sistem daya tahan tubuh. Imunostimulan bekerja untuk merangsang pembentukan sel-sel imun seperti sel B yang kemudian akan membentuk antibodi,” tuturnya.

“Pada kondisi dimana risiko paparan terhadap infeksi virus sangat tinggi, maka imunostimulan dapat ditambahkan disamping pencegahan lainnya,” ujar Prof Iris.

Menurut Prof Iris, imunostimulan dapat dikonsumsi dalam durasi tertentu sampai risiko paparan virus menurun dan sebaiknya dikonsumsi sebelum seseorang terinfeksi suatu penyakit, karena Imunostimulan membutuhkan waktu untuk merangsang sistem imun.

 

Penggunaan imunostimulan dapat dianjurkan pada orang-orang yang merencanakan bepergian, dan sering berada di pusat keramaian. Selain itu, kelompok usia yang rentan memiliki daya tahan tubuh rendah, terutama lanjut usia  di atas usia 60 tahun lebih diutamakan.

Prof Iris juga menambahkan bahwa meningkatkan daya tahan tubuh pada kondisi ini menjadi sangat penting untuk semua orang baik yang memiliki risiko tinggi ataupun tidak.

Dr. Raphael Aswin, MSi, VP Research & Development Soho Global Health menjelaskan imunostimulan yang baik mengandung Echinacea pupurea extract dan zinc picolinate.

“Kandungan Echinacea purpurea extract telah terbukti secara klinis dapat memodulasi system daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Sementara zinc picolinate berperanan aktif dan bekerja sinergis pada sistem daya tahan tubuh,” jelas Raphael.

Imboost merupakan produk immunomodulator yang bersifat imunostimulan dari Soho Global Health yang mengandung Echinacea pupurea extract dan zinc picolinate.

Selain itu terdapat juga Imboost Force yang mempunyai kekuatan lebih dalam imunostimulan karena terdapat tambahan kandungan Blackelderberry extract yang dapat mencegah replikasi virus serta menstimulasi peningkatan sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan produksi monosit.

“Monisit yaitu bagian darah putih yang berperan dalam sistem daya tahan tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan bagi orang yang sudah sakit karena terinfeksi virus,” jelasnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT