03 February 2020, 10:58 WIB

Pusat Diminta Kembangkan Daerah Penyangga Ibu Kota Baru


mediaindonesia.com | Nusantara

PEMERINTAH pusat diminta peka dan memikirkan secara penuh dan komprehensif terhadap pengembangan dan pembangunan daerah-daerah penyangga sekitar ibu kota negara yang baru di Kalimantan Timur. 

Tiga provinsi penyangga, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Barat (kalbar) seharusnya bisa mendapat manfaat lebih dari efek pemindahan Ibu kota negara tersebut.

Khususnya Kalbar yang letaknya paling jauh dari dua provinsi Kalimantan lainnya. Diperlukan konsep dan strategi khusus bagi pengembangan kawasan penyangga tersebut.

Untuk Kalbar misalnya, rencana pemekaran provinsi baru harus segera direalisasikan. Demikian juga dengan jalur kereta api khusus produksi, kawasan pelabuhan yang terintegrasi dengan jalur kereta api dan kawasan industri.

Hal tersebut diungkapkan pengamat perencanaan pembangunan daerah dari Pontianak, Rusnawir Hamid, di Jakarta, Senin (3/2). 

Terkait kebutuhan pemekaran wilayah propinsi baru, menurut Rusnawir, harus segera diproses dan dilaksanakan mengingat luas wilayah Kalbar sekitar 147 ribu km persegi jika bandingkan dengan luas pulau Jawa yang sekitar 128 ribu km persegi  tetapi ditempati oleh empat provinsi dan dua daerah khusus/ istimewa.

"Tidak mungkin pengembangan daerah seluas itu hanya dibebankan kepada seorang gubernur. Pemerintah Pusat mestinya harus peka terhadap pengembangan daerah-daerah penyangga Ibu Kota Baru. Soal pemekaran ini bukan lagi keinginan, tapi sudah jadi kebutuhan di Kalbar," ujarnya.

"Selanjutnya kebijakan perencanaan dan pembangunan yang lebih luas berbasis kepulauan, agar segera disusun, sehingga ada sinergi pembangunan antar daerah dan seluruh daerah dalam konstelasi pulau tadi. Sehingga misalnya pesatnya pembangunan antara Kalbar dan Kaltim, tidak terlalu jomplang,” lanjut Rusnawir. 

Selain itu, Rusnawir juga mengusulkan untuk dilakukan pembangunan  jalur kereta api khusus produksi yang terkoneksi dengan pelabuhan-pelabuhan yang ada, serta kawasan industri. Jika dilihat dari karakteristik potensinya yang begitu besar, pihak investor  swasta akan berminat. 

“Jangan dilihat dari sisi feasible atau tidaknya dari sisi  ekonomis jangka pendek, jika menggunakan jalan umum, biaya perawatan akan lebih mahal, truk pengangkut CPO misalnya diyakini akan merusak jalan sebagaimana yang terjadi sekarang," tuturnya.

"Karena itulah pentingnya membangun jalur-jalur distribusi yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pelabuhan, sehingga membuat perkembangan perekonomian kawasan dan daerah akan menjadi semakin berkembang dan punya dampak positif. Walau ini bukan dampak langsung dari pemindahan ibu kota baru,” katanya. 

Karena itu, pemerintah pusat, dalam hal ini Bappenas, juga harus memikirkan secara makro dampak langsung dan tidak langsung bagi pemindahan Ibu Kota Baru agar Kalbar, Kalteng, dan Kalsel mendapat manfaat. 

"Perlu desain pembangunan infrastruktur untuk daerah penyangga, baik dari sisi pemekaran, jalur KA produksi, terintegrasi dengan pelabuhan dan kawasan Industri, agar pemerataan pembangunan dapat terwujud sebagai efek dari pemindahan ib kota negara baru,” tegasnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT