03 February 2020, 08:30 WIB

Saat Evakuasi tidak Ada Baju Khusus, hanya Masker


Hendri Kremer | Humaniora

RATUSAN warga negara Indonesia (WNI) bergegas menaiki sebuah pesawat di Bandara Tianhe, Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Suasana saat itu sangat sepi dan dingin.

Setibanya di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, pukul 08.40 WIB, satu per satu WNI yang turun dari pesawat disemprot cairan antivirus oleh petugas berseragam kuning. Pesawat Batik Air A330 yang mengangkut mereka pun disemprot disinfektan antivirus.

"Ayo jalan, sambil jalan. Matanya ditutup, matanya ditutup," ujar  petugas mengarahkan mereka.

Proses itu memakan waktu sekitar 60 menit sebelum mereka dibawa ke Natuna untuk menjalani masa karantina selama 14 hari.

Namun, saat menuruni tangga pesawat, ratusan WNI itu tampak tak dilengkapi baju khusus. Mereka yang transit di Batam sebelum bertolak ke Natuna hanya memakai baju biasa dilengkapi masker saat dievakuasi ke pesawat Boeing dan Hercules. Kondisi itu berbeda dengan para petugas yang menggunakan pakaian pelindung lengkap. Ratusan WNI yang sebagian besar mahasiswa itu berjalan tertib menuju pesawat.

Warga Batam menerima mereka dengan kelegaan hati walaupun ada sedikit kekhawatiran. Namun, kekhawatiran tersebut ditepis Wali Kota Batam Muhammad Rudi.

Menlu Retno Marsudi pun mengatakan semua WNI itu dalam kondisi sehat. "Alhamdulillah total 243, termasuk lima di antaranya Tim Aju (KBRI Beijing), yang kita pulangkan dari Wuhan telah tiba dengan selamat di Natuna. Mereka akan melalui masa observasi selama 14 hari. Tim penjemput juga akan menjalani proses observasi sehingga total 285 orang," ujar Retno, kemarin.

Di Bandara Hang Nadim, aktivitas tetap berjalan normal. Bahkan, pada saat proses evakuasi, para penumpang domestik masih bisa menaiki pesawat meski ada proses evakuasi di dekat mereka. Padahal sebelumnya, menjelang kedatangan para WNI dari Wuhan, petugas TNI-AU melakukan sterilisasi bandara untuk mengantisipasi adanya penularan virus korona.

Di sisi lain, di jalan gerbang menuju Bandara Raden Sadjad, Ranai, Kabupaten Natuna, ratusan orang terlibat aksi saling dorong dengan aparat menjelang kedatangan pesawat evakuasi dari Batam. Warga seperti paranoid dengan virus korona meski Kemenkes memastikan para WNI yang dievakuasi dalam kondisi sehat.

Tenaga medis dan psikis juga sudah diturunkan ke Natuna. Meski demikian, warga di sana tetap menolak proses observasi tersebut. Ironis memang, para WNI itu ditolak warga negara sendiri, padahal sebagian besar mereka yang berada di Tiongkok tersebut ialah mahasiswa yang tengah menuntut ilmu.  (Hendri Kremer/Hym/X-7)

BERITA TERKAIT