03 February 2020, 06:10 WIB

Guru, Pedagogi dan Emosi


Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini

SEORANG kepala sekolah, peserta program magister pendidikan universitas swasta di Jakarta, menghadap seorang dosen pengasuh salah satu mata kuliah pokok. Dengan muka masam, dahi mengerut, dengan nada dan volume suara tinggi ia mengatakan, "Bapak tidak menghargai dan empati kepada saya. Saya dalam usia tua (50 tahun) masih mau kuliah. Mengapa bapak tidak meluluskan saya?"

Sang dosen berusaha menahan diri dan dengan tenang menjawab, "Tugas yang ibu serahkan kepada saya tidak memenuhi standar kelulusan sehingga saya tidak bisa memberi nilai lulus hanya karena alasan empati. Jika ibu bersedia, sebaiknya ibu membuat paper lagi dan mengikuti ujian lisan." Tampak agak kesal, tapi ia 'tetap menerima tawaran itu'.

Dua bulan kemudian, ia menyuruh temannya menyerahkan makalahnya dan menyatakan dia tidak bisa datang. Padahal, dalam perjanjiannya ia akan datang dan menjalani ujian lisan. Utusannya tidak sadar keceplosan menyampaikan kepada sang dosen bahwa ia tengah menyiapkan diri untuk menghadapi ujian tesis tiga hari ke depan. Sang dosen tertegun sejenak, mengucap astagfirullah dan innaa lillaah, sambil mengusap dada menahan perasaan karena keputusan manajemen untuk meluluskan si ibu tanpa berkonsultasi dengannya, telah merusak moralitas (akhlak).

Dari kasus itu kita bisa menarik beberapa isu substantif pendidikan, antara lain integritas akademis, korupsi dalam pendidikan, dan emosi. Dalam tulisan ini, akan difokuskan pada emosi. Mengapa emosi? Pada umumnya masyarakat memahami emosi dengan pemahaman minor, yaitu sikap dan tindakan negatif, seperti marah, menghardik orang lain, dan sebagainya. Padahal, dalam kajian keilmuan seperti psikologi, emosi mengandung dimensi positif (emosi positif) dan negatif (emosi negatif). Selain itu, dari kajian atau studi ditemukan bahwa emosi dapat bermanfaat bagi peningkatan mutu diri atau mutu belajar (pendidikan). Apa yang dimaksud emosi positif? Mengapa guru-pendidik perlu memahami kajian emosi? Bagaimana menumbuhkan emosi positif pada guru-pendidik dan peserta didik?

Kajian tentang emosi

Semenjak zaman Plato, emosi telah menjadi suatu objek pertanyaan (Solomon:2003). Namun, riset tentang emosi dalam dunia pendidikan baru mulai menonjol setelah emosi menjadi sebuah topik yang substantif dalam kajian sosiologi pada 1980-an (Decur-Gunby, William:2007).

Dalam kajian agama (Islam), emosi telah menjadi bagian yang mendapat perhatian dalam Alquran, misalnya, pernyataan inna nafsa laammarotun bissui illa man rahima rabbi (QS Yusuf, 12:53), yang mendasari naskah suci para ulama pada abad pertengahan seperti Al Ghazali dengan karyanya Ihya Ulumudin, yang menjadi salah satu rujukan utama untuk kajian tasawuf.

Dalam kajian kini, emosi adalah satu dimensi affective state yang berbeda dengan dimensi lainnya (sensasi) karena emosi menyangkut perasaan tentang sesuatu yang dikatakan, dipahami, dan disadari (Morag:2016). Emosi merupakan internal state of being seseorang yang secara tipikal terkait dengan perasaan fisiologis dan sensoris. Ia merupakan kondisi psikologis dan fisiologis. Emosi akan menjadi daya yang kukuh dan mandiri dalam urusan kehidupan yang memengaruhi persepsi, mewarnai memori, mengikat orang melalui tarikan, yang karenanya seorang menjadi dirinya terpisah lantaran kebencian dan kesalahan, rasa malu atau kebanggaan (Decur-Gunby, Willian:2007).

Dalam konteks berprestasi, emosi dapat digolongkan dalam empat besaran, yaitu emosi aktif positif (positive activating emotions), seperti menikmati, penuh harap/asa, dan kebanggaan; emosi aktif netral (positive deactivating emotions), seperti pulih dan relaksasi; emosi aktif negatif (negative activating emotions), seperti marah, cemas, dan malu; serta emosi negatif netral (negative deactivating emotions), seperti jenuh atau bosan dan putus asa (Pekrun et All:2007).

Ada beberapa alasan mengapa guru-pendidik perlu memahami kajian emosi, yaitu, pertama, seseorang seperti guru berinteraksi satu dengan lainnya yang dalam interaksi tersebut dimensi emosi akan muncul. Sebagai manusia, guru ialah makhluk yang dianugerahi akal, hati, dan nafsu oleh Tuhan. Kedua, emosi dan kegiatan belajar. Emosi mengandung unsur-unsur sistem, yaitu (I) sistem kognitif atau penilaian, (II) the autonomic nervous system atau ANS (afeksi), (III) system monitor (afeksi), dan (IV) system motoric (aksi/tindakan) (Teynde, Corte, Verschaffek: 2007). Belajar adalah interaksi antara proses kognitif, konatif, dan emosional--pendekatan multidimensi yang meng-address proses dan interaksi ketiga hal tersebut. Selain itu, dalam kegiatan belajar pengalaman emosi peserta didik terkait dengan tujuan dan tindakan perilaku (kehendak)(Teynde, Corte, Verschaffek: 2007).

Ketiga, dampak emosi terhadap belajar. Studi tentang hal itu mengungkapkan bahwa emosi memberi pengaruh terhadap hasil belajar. Rasa senang dalam belajar, punya asa, dan percaya diri memengaruhi hasil atau prestasi akademis secara positif. Sebaliknya, emosi negatif aktif, seperti putus asa dan bosan akan memberi pengaruh negatif berhadap prestasi akademis peserta didik. Emosi positif membuat seseorang fokus terhadap kegiatan dan bermotivasi, yang kesemuanya mempunyai hubungan positif dengan hasil.

Sebaliknya, rasa cemas, malu, tidak bergairah, atau putus asa memengaruhi capaian hasil secara negatif. Perasaan guru yang senang dalam mengajar suatu mata pelajaran seperti matematika akan menghasilkan mengajar kreatif (creative teaching) (Pekrun, Frenzel, Goetz, Perry:2007).

Pada sisi lain, kemampuan peserta didik mengendalikan emosi (effective self regulation) yang tidak menyenangkan, seperti bosan, putus asa merupakan cara efektif dan memberikan hasil positif, misalnya, peserta didik berhasil menyelesaikan masalah dari suatu pelajaran seperti matematika (Teynde, Corte, Verschaffek, 2007:199; Hoyle, 2010:14).

Yang harus dilakukan

Oleh karena itu, apa yang dapat dilakukan oleh seorang guru-pendidik untuk mewujudkan emosi positif untuk mendukung misi dia di kelas/sekolah? Ada beberapa hal yang bisa menjadi panduan bagi guru, yaitu, pertama, melakukan transformasi pendekatan pembelajaran yang konvensional, seperti rote memory model secara monolog ke pendekatan pembelajaran yang menumbuhkan kepercayaan dan penilaian positif terhadap peserta didik dengan memberikan masukan yang konstruktif, memberikan peluang mereka belajar dari kesalahan, serta menumbuhkan kemandirian (autonomy support) dan kerja sama dengan model cooperative/collaborative learning.

Kedua, guru melakukan upaya untuk menciptakan iklim yang mendorong (enabling) peserta didik menjadi merasa percaya diri dan partisipatif dalam pembelajaran (engagement) (Tenyde et All:2007). Ketiga, emosi peserta didik mempunyai kaitan dengan teori belajar self regulation dan social construction.

Keempat, guru-pendidik menstimulasi peserta didik mendapatkan atau menemukan strategi-strategi untuk mengendalikan emosi negatif. Guru dapat menciptakan lingkungan sekolah atau pendidikan yang kondusif terhadap pengembangan emosi positif. Wallahualam.

BERITA TERKAIT