02 February 2020, 08:40 WIB

Trump Hampir Pasti Lolos dari Pemakzulan


Media Indonesia | Internasional

SENAT Amerika Serikat memutuskan menolak seruan Demokrat untuk menghadirkan saksi dan mengum­pulkan bukti baru dalam sidang pemakzulan Donald Trump.

Dengan hasil pemungutan suara 51 berbanding 49, Senat yang dikuasai Partai Republik menghentikan upaya Demokrat untuk mende-ngarkan kesaksian dari para saksi, seperti mantan penasihat keamanan nasional John Bolton, yang dianggap memiliki pengetahuan langsung tentang upaya Trump untuk menekan Ukraina agar menyelidiki saingan politiknya, mantan Wakil Presiden Joe Biden.

Trump sudah menolak tudingan itu dan menyebut sidang pemakzul­an terhadap dirinya ‘hoaks’ dan merupakan ‘upaya kudeta’.

Argumen penutup akan dimulai Senin pukul 11.00 dengan empat jam pemisahan antara penuntutan dan pembelaan. Itu akan memberi waktu kepada empat senator Demokrat yang mencalonkan diri untuk menjadi calon presiden ketika mereka ke Iowa untuk kampanye.

Di antara argumen penutupan dan pemungutan suara terakhir, senator akan memiliki kesempatan untuk memberikan pidato di lantai Senat. Trump akan menyampaikan pidato kenegaraannya ke sidang gabungan Kongres, Selasa malam.

Senat hampir pasti akan membebaskan Trump dari tuduhan itu karena mayoritas dua pertiga Senat diharuskan untuk memvonis Trump dan tidak ada satu pun dari 53 senator Republik yang mengindikasikan mereka akan memilih untuk memvonis Trump.

Pemimpin Minoritas Demokrat Senat Chuck Schumer menyebut sidang pemakzulan Trump sebagai tragedi besar.

“Amerika akan mengingat hari ini, hari ketika Senat Amerika Serikat tidak memenuhi tanggung jawabnya, berpaling dari kebenaran, dan bukannya pergi bersama dengan pengadilan palsu,” kata Schumer.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi, sosok yang mengumumkan Trump dimakzulkan Desember lalu, menuding Republik sengaja membantu sang presiden menutupi perbuatannya.

“Dia sudah dimakzulkan selama­nya. Tidak ada pembebasan tanpa sidang. Tidak ada sidang tanpa saksi, bukti, dan dokumen,” tegas Pelosi. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT