02 February 2020, 08:30 WIB

Atlet Voli Andalan Sekolah Menolak Diamputasi


Rudi Kurniawansyah | Nusantara

PENDERITA kanker kaki ganas, Riska Ramadila, 17, menolak tindakan amputasi. Saat ini pihak rumah sakit menunggu keputusan keluarga pasien agar dapat melakukan tindakan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau, Mimi Yuliani Nazir, Riska telah dirujuk ke RSUD Arifin Achmad (AA) dengan pendampingan dari puskesmas dan Dinkes Provinsi Riau. Dia juga telah diperiksa oleh dokter Elfadri di poli bedah onkologi.

“Telah dilakukan edukasi kepada beberapa anggota keluarga inti, pasien yaitu etek (bibi), amai, paman untuk menyampaikan kondisi medis pasien dan tindakan yang akan dilakukan secara klinis karena persoalan yang paling mendasar adalah keragu-raguan keluarga inti atas rencana tindakan amputasi yang akan dilakukan pihak RSUD AA,” kata Mimi.

Dia menjelaskan, jika keluarga sudah memutuskan, RSUD AA sudah merencanakan persiapan tindakan yang rencananya pada Kamis (30/1) lalu. “Namun info yang didapat, keluarga­ membawa pasien berobat ke RSI Ibnu Sina Pekanbaru sebagai second opinion. Prinsipnya, tindakan selanjutnya oleh tim dokter RSUD AA ialah menunggu keputusan dari keluarga­ pasien”.

Gadis kelahiran Desa Batu Sanggan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, pada 22 Oktober 2002 itu, dikenal periang dan bercita-cita menjadi atlet voli profesional. Namun, kini nasib memilukan dialami siswi kelas 3 SMAN 1 Kampar Kiri yang merupakan sosok paling diandalkan tim voli sekolahnya.

Riska divonis menderita kanker ganas stadium 4 pada lutut kaki kanannya. Dia mengatakan tidak pernah menyadari adanya penyakit itu pada dirinya saat pada Juli 2019 lututnya cedera akibat terbentur sehingga jatuh saat berlatih voli.

“Belum bengkak seperti saat ini. Tapi sudah terasa sakit dan ngilu. Itu sakitnya hilang timbul,” kata Riska yang tinggal di sebuah rumah papan sederhana di Jalan Sosiawan RT 03 RW 03 Kayu Mas, Kelurahan Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri.

Setelah 7 bulan, bagian dengkul kaki kanan Riska terus membengkak dan membesar merah hingga sebesar kepala.  “Diamputasi kita, tak mau. Kata dokter, operasi juga tak menjamin sembuh,” tuturnya. (RK/N-3)

BERITA TERKAIT