01 February 2020, 21:18 WIB

Derita Kanker Ganas, Riska Menolak Diamputasi


Rudi Kurniawansyah | Humaniora

RISKA Ramadila, gadis kelahiran Desa Batu Sanggan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, pada 22 Oktober 2002 atau 17 tahun lalu, dikenal selalu riang gembira dan bercita-cita besar menjadi atlet voli profesional.

Namun kini, nasib memilukan dialami siswi kelas 3 SMAN 1 Kampar Kiri yang merupakan sosok paling diandalkan tim voli sekolahnya.

Riska divonis menderita kanker ganas stadium 4 pada lutut kaki kanannya. Dia tidak pernah menyadari adanya penyakit itu ketika pada Juli 2019 lututnya cedera akibat terbentur dan jatuh saat berlatih bola voli.

"Belum bengkak seperti saat ini. Tapi sudah terasa sakit dan ngilu. Itu
sakitnya hilang timbul," kata Riska yang tinggal di rumah papan sederhana di Jalan Sosiawan RT 03 RW 03 Kayu Mas, Kelurahan Lipat Kain,
Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau, kemarin.

Setelah tujuh bulan berlalu, bagian dengkul kaki kanan Riska terus membengkak dan membesar merah hingga sebesar kepala. Rasa sakit yang tertahankan setiap hari harus dirasakannya. Sampai akhirnya dalam sebulan ini Riska tidak lagi bisa datang bersekolah dan lebih banyak berbaring di kasur kecil rumah papannya.

"Pihak sekolah memberikan kelonggaran," jelasnya.

Gadis dengan paras cantik, putri dari pasangan Herianto dan Muzarniati itu memang diketahui dari kecil sudah mempunyai bakat tekad yang kuat. Kedua orang tua Riska tergolong kurang mampu lantaran hanya bekerja serabutan sebagai penyadap karet di daerah terpencil sekitar Sungai Subayang yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya.

Tapi sosok Riska selalu hidup bersemangat dari mulai bersekolah, berlatih voli sedari kecil, hingga dalam situasi memilukan saat mencari pengobatan untuk penyakitnya.

Pihak keluarga mengakui sudah dan terus berupaya untuk kesembuhan Riska. Mulai dari berobat ke dokter hingga ke pengobatan alternatif.

Terakhir Riska dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad untuk menjalani prosedur pengobatan kanker dan amputasi kaki kanannya. Persoalan muncul lantara Riska dan keluarga menolak diamputasi.

"Diamputasi kita tak mau. Operasi juga tak menjamin sembuh kata dokter," tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau Mim Yuliani Nazir mengatakan pasien Riska kasus kanker kaki telah dirujuk ke RSUD Arifin Achmad (AA) dengan pendampingan dari Puskesmas dan Dinkes Provinsi Riau. Riska juga telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter Elfadri di polibedah onkologi.

"Telah dilakukan edukasi kepada beberapa keluarga inti dari pasien yaitu etek (bibi), amai, paman untuk menyampaikan kondisi medis pasien dan tindakan yang akan dilakukan secara klinis karena persoalan yang paling mendasar adalah keragu-raguan keluarga inti atas rencana tindakan amputasi yang akan dilakukan pihak RSUD AA," tegas Mimi.

Mimi menjelaskan, jika keluarga sudah memutuskan untuk dilakukan tindakan, RSUD AA sudah merencanakan persiapan untuk tindakan yang rencananya pada Kamis (30/1) kemarin.

"Namun info yang didapat keluarga membawa pasien berobat ke RSI Ibnu Sina Pekanbaru sebagai second opinion. Prinsipnya tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh tim dokter RSUD AA menunggu keputusan dari keluarga pasien. Dan tindakan pengobatan di RSUD AA tidak menyangkut dengan persoalan biaya karena yang bersangkutan mempunyai JKN-KIS PBI APBN," jelas Mimi.

Menurutnya, pasien Riska secara medis bisa ditangani di RSUD AA melalui
operasi, kemoterapi, radioterapi, dan lain-lain sesuai kebutuhan medisnya.

"Dan dokter RSUD AA tidak pernah menganjurkan pasien Riska untuk dirujuk ke Jakarta dengan alasan keterbatasan alat seperti yang diberitakan," tukas Mimi.

Mimi mengungkapkan RSUD AA tinggal menunggu persetujuan dan kehadiran
pasien serta keluarga di RSUD AA untuk melengkapi pemeriksaan pendukung
yang diperlukan dalam persiapan operasinya.

Selain itu, sambil menunggu persetujuan keluarga, tim kanker RSUD AA akan melakukan kajian dalam pertemuan Tim Ahli Kanker (Tumor Board Meeting) untuk memutuskan langkah-langkah tindakan terbaik yang akan dilakukan.

Tumor board meeting adalah sidang para pakar kanker RSUD AA untuk membahas setiap kasus yang kompleks atau sulit yang membutuhkan tindakan secara multi disiplin.

Mimi menambahkan, mengingat tumornya sangat besar dengan pembuluh darahnya juga sangat besar, salah satu alternatif langkah penanganannya adalah melakukan tindakan kemoterapi atau radioterapi terlebih dahulu untuk memperkecil massa tumor sehingga mengurangi risiko perdarahan saat operasi nantinya.

Disamping itu psikolog RSUD AA juga sekaligus memberikan edukasi
untuk mempersiapkan mental pasien menjalani operasi dan masa-masa setelah kakinya diamputasi nanti.

"Semoga sebagian tulang pahanya masih baik agar memudahkan untuk dipakaikan kaki palsu nantinya," ujar Mimi.

Sejauh ini, lanjut Mimi, tim Dinkes, Puskesmas, dan tim kanker RSUD AA
sudah mengedukasi keluarga Riska yang dihadiri kedua orang tua, paman,
beberapa keluarga dekat, dan tetangganya Angki mahasiswa.

"Alhamdulillah waktu itu semua sudah paham dengan penjelasan yang diberikan dan menyatakan akan berunding dahulu dan akan datang kembali ke RSUD AA. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk terbaik kepada Riska agar mendapatkan pengobatan medis yang maksimal, utk pembiayaan tidak masalah karena pasien sudah punya kartu JKN," ungkap Mimi.(OL-2)

 

BERITA TERKAIT