02 February 2020, 06:00 WIB

Santapan Cepat Saji tanpa Khawatir Kalori


Try/M-4 | Weekend

PARA pejuang diet suka merasa ‘berdosa’ saat memakan makanan cepat saji, seperti ayam goreng tepung, burger, dan piza. Namun, untuk tetap pada jalur makan sehat, mereka juga sering terjebak dengan rasa jenuh.

Berawal dari brainstorming di restoran cepat saji, pemilik usaha, Gregorius Ruben, 20, bersama seorang kawannya memutuskan untuk mencoba membuat makanan cepat saji yang sehat. Sehat yang dia maksud, yaitu rendah kalori dengan nutrisi yang sesuai untuk diet rendah kalori.

Yellowfit Express merupakan ekspansi dari bisnis mereka sebelumnya, yaitu layanan katering makanan sehat Yellowfit Kitchen yang telah berjalan selama 2,5 tahun. Meluaskan pasar ke makanan cepat saji, mereka ingin merangkul konsumen perempuan.

Dari hasil riset mereka, ditemukan banyak kaum hawa yang tetap ingin menyantap makanan cepat saji dengan rasa yang kaya, tetapi tetap sehat.

Menghitung kandungan dan pilihan makanan cepat saji rendah kalori, mereka menggandeng ahli gizi atau nutritionist Carmelita Ridwan. Menakar komposisi makanan pun telah mereka lakukan bersama sejak layanan katering Yellowfit Kitchen.

“Ketika kami menciptakan makanan cepat saji yang berbasis makanan sehat, yang pertama kami lakukan ialah meriset kalori daging yang rendah. Akhirnya, diputuskan berupa dada ayam tanpa kulit dengan protein. Kami menggunakan daging tenderloin yang lebih sedikit lemak dan menghilangkan tepung pada piza,” jelas Ruben di Jakarta, Selasa pekan lalu.

Paket makanan yang mereka tawarkan sekaligus menjadi favorit para pengunjung, yaitu diet fried chicken (DFC). Sesuai namanya, makanan ini menggambarkan pilihan diet. Ayam yang disajikan hanya bagian dada. Seperti diketahui, dada ayam memiliki lemak paling sedikit, tapi tinggi protein.

Penyajian ayam goreng tepung ini tanpa menggunakan kulit. Ayam broiler orga­nik diungkep menggunakan bubuk bawang putih, paprika, dan bawang bombai. Kemudian, mereka menggunakan tepung gandum untuk menjadi kulitnya.

Rasanya memang tidak segurih penyedap rasa ayam goreng tepung di restoran cepat saji lainnya. Bagian ‘kulit’ pun menjadi tipis dan tidak terlalu kriuk, meski masih tetap enak.
Ruben mengatakan, ruang market mereka tidak bisa dikatakan bersaing dengan ayam tepung cepat saji lainnya. Itu karena sasaran pasar konsumennya lebih kepada orang yang ingin mengedepankan makan sehat dan tetap enak.

Bagian ayam yang digunakan ialah bagian dada yang biasanya bertekstur keras. Namun, di DFC mereka merendam ayam dengan susu segar saat proses marinasi. Trik ini digunakan untuk melembutkan dada ayam. Hasilnya, da­ging ayam menjadi lebih kenyal dan mudah disuwir. Selain itu, untuk mengeluarkan minyak kelapa, setelah digoreng, ayam dipanggang selama 5 menit.
Teman untuk menyantap paket ayam ini berupa nasi cokelat (brown rice), yang memiliki kalori rendah. Dalam DFC juga diberikan orak-arik putih telur yang dipanggang.

Total kalori dari paket DFC ini hanya sebesar 476 kalori, dengan kandungan karbohidrat 43 gram, protein 40 gram, dan lemak 16 gram. Umumnya seporsi nasi dan ayam goreng tepung di restoran cepat saji biasa, memiliki kandungan kalori sekitar 544 kalori, merujuk pada fatsecret. (Try/M-4)

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT