02 February 2020, 01:00 WIB

Rona Baskara di Ujung Jawa


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Weekend

POHON-POHON tinggi berderet rapi sepanjang kiri dan kanan jalan. Daun-daunnya terlihat agak kecokelatan, mengering, seakan segera merontok saat batang pohonnya digoyang. Pemandang­ an monokrom seperti itulah yang menemani perjalanan saya berkendara di Taman Nasional Baluran, awal Desember silam.

Bak tirai terbuka, jalan yang kami lalui kemudian menyibak pepohon­an rimbun, menerobos pada satu celah. Terkadang, mobil yang saya dan rombongan PT Astra tumpangi berhenti sejenak, mempersilakan rombongan induk ayam dan anak-anaknya lewat. Ya, kami harus bergantian menggunakan jalan yang sebenarnya dibangun di atas habitat mereka.  

Bukan hanya ayam, ada pula rusa, burung merak, dan kerbau yang beberapa kali berpapasan dengan kami di kawasan taman nasional yang terletak di Desa Wonorejo, ­Kecamatan Banyuputih, Banyuwangi, Jawa timur, itu.

Keberadaan satwa-satwa itu tak terduga sehingga membuat mata tak bisa teralihkan dari jalan untuk mencari mereka. Bahkan, pemandu kami mengatakan, jika beruntung, kami bisa saja bertemu dengan harimau yang mencari minum di sungai di pinggir jalan. Sayangnya, kami kurang beruntung hari itu.

Terus menyusuri jalan, kami seperti disajikan suasana berbeda kala pepohonan kering mulai berganti dengan pepohonan hijau. Evergreen, orang menyebutnya. Ya, sesuai namanya, pepohonan di area ini tak pernah kering. Mereka selalu tampak hijau dan asri, mengiringi laju kendaraan kami hingga di Bekol, semacam pos pemberhentian. ­Namun, kali ini mobil tak berhenti, tetapi terus menderu melewati padang sabana hingga sampai di surga yang tersembunyi, Pantai Bama.

Pantai ini memang konon belum terjamah banyak orang. Bahkan, saat kami sampai, hanya para kera yang menyambut. “Awas jangan bawa makanan, monyet pasti merebutnya,” ujar pemandu kami mengingatkan.

Pasir Pantai Bama berwarna putih. Di sana ada spot foto yang disiapkan warga lokal untuk berswafoto berupa ayunan dan perahu, juga batang pohon kering. Berjalan sedikit ke sisi lainnya untuk melihat pemandangan lain dari dermaga, kami disuguhkan dengan tumbuhan bakau yang memiliki akar-akar superbesar. Sayangnya, kami tak dapat berlama-lama di pantai yang lengang ini. Ada matahari terbenam yang hendak kami kejar, kembali ke Bekol.

Dengan agak tergesa-gesa, kami kembali ke hamparan sabana yang kerap dijuluki Little Africa in Java tersebut. Baskara--nama lain Mata­hari, dari bahasa Jawa--sudah mulai turun mendekati garis cakrawala dengan warna jingga kemerahan. Tentu saja kami sontak mengeluarkan ponsel, berupaya menangkap imaji tersebut sebelum matahari sepenuhnya terbenam.

Kawasan ini disukai para wisa­tawan meski panas menyengat. Setidaknya mereka mengingat seperti ada di Afrika, apalagi di kawasan ini hanya ditumbuhi beberapa pohon dan menjadi habitat beberapa hewan seperti rusa dan kerbau.

Seusai Matahari menghilang, kami bergegas pulang ke penginapan. Gelap menyelimuti Baluran. Tak ada lampu yang menerangi jalan.

Pagi di Ijen

Rasanya baru terlelap beberapa jam sebelum alarm membangunkan jelang tengah malam. Dengan terkantuk-kantuk, saya segera bersiap-siap. Rombongan kami dijadwalkan bertolak dari penginapan pukul 00.00 WIB untuk ke Pos Paltuding, titik berkumpulnya para pendaki di Taman Nasional Kawah Ijen. Loket dibuka sejam kemudian. Setelah itu, kami diagendakan memulai trekking untuk menangkap Matahari terbit di puncak.

Masker dan senter kepala menjadi pelengkap peralatan yang kami kenakan, selain sepatu, jaket, dan penghangat tubuh lainnya seperti sarung tangan dan kupluk. Segala atribut itu kami persiapkan lantaran kabarnya suhu di puncak bisa turun hingga di bawah 14 derajat Celcius.

Sekitar 20 menit awal pendakian, jalanan masih landai. Setelahnya, jalanan mulai menanjak dan terjal sekitar 45 derajat sehingga membuat banyak di antara kami merasa lelah, berjalan terseok-seok di dalam gelap.

Karena itu, tak mengherankan jika sepanjang perjalanan akan dibuntuti oleh ojek troli yang selalu menawarkan jasa untuk mengangkut pendaki yang tak sanggup naik ­sendiri sampai puncak. “Ayo kak, naik Lambhorgini (troli),  biar gak capek,” kata salah seorang ojek troli. Mereka memang sengaja memelesetkan namanya agar tak terkesan kaku.

Keberadaan troli memang sudah ada sejak lama, menurut cerita, dahulu ada seorang anak dari Swiss yang ingin melihat Kawah Ijen. Namun, kondisinya tidak memungkinkan karena menderita leukimia sehingga para warga di sana meng­angkatnya hingga ke puncak. Beberapa minggu setelah itu, ia meninggal sehingga orangtuanya menyumbang puluhan troli, berharap orang lain bisa menikmati keindahan Ijen meski tubuh mereka tak kuat mendaki. Troli ini sekarang sudah menjadi mata pencarian warga sekitar, baik untuk mengangkut orang maupun belerang.

Tarif troli jika naik mulai dari Pos Paltuding ke Ijen, dikenai Rp600 ribu-Rp800 ribu untuk pulang-pergi. Jika naiknya di tengah jalan, Anda harus pintar menawar. Harga itu rasanya sepadan dengan medan yang dihadapi. Bukan hanya jalanannya yang menanjak, treknya pun acap licin oleh butir-butir pasir atau terjal karena bebatuan.

Tantangan lain ialah jurang di sisi lain dan tentu pencahayaan yang sebatas dari senter. Jika Anda memilih untuk terus berjalan, baiknya mengambil posisi di tengah jalan. Biasanya, butuh 2 hingga 3 jam untuk tiba di Puncak, tentu sesuai stamina masing-masing.

Mendekati kawah, trek mulai melandai, sementara langit mulai menerang kendati waktu masih menunjukkan pukul 04.00. Ya, Matahari terbit memang datang lebih awal di Jawa bagian timur ini. Untuk menyaksikan Matahari terbit yang lebih indah, sebenarnya rombongan kami perlu mendaki sekitar 1 kilometer lagi. Akan tetapi, pagi itu mentari agak tertutup awan. Begitu pun dengan keadaan bluefire yang berada 800 meter dari Kawah Ijen ini hanya menampakkan sedikit api biru abadinya.

Namun, seakan tak mau mengecewakan pengunjungnya, Ijen menyuguhkan panorama lain saat kami melangkah turun pulang ke pos awal. Jurang yang kami lewati saat gelap itu ternyata membuka pandangan kita akan lanskap ­Banyuwangi, termasuk hamparan sawah, ­menjulangnya gunung di seberang, hingga liuk trek yang kami lewati.

Pulau Merah

Seusai rehat di penginapan, petang hari yang sama, kami kembali mengejar Matahari. Kali ini, Matahari tenggelam di Pantai Pulau Merah menjadi tujuan kami.

Sebelum kami mencapai pulau yang ada di selatan Banyuwangi tersebut, kami sempat merapat ke lokasi wisata yang jadi hit di media sosial, yaitu De Jawatan. Destinasi ini berupa hutan trembesi, pohon-pohon berukuran gigantik dengan usia mencapai ratusan tahun. Rerimbunan pohon dengan warna hijaunya menjadi penyejuk mata. Puas berjalan-jalan dan mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

Pantai Pulau Merah, begitu namanya, penamaan ini mengacu pada bukit kecil yang memiliki ketinggian sekitar 200 meter yang tersusun dari tanah berwarna merah di dekat pantai. Bukit ini bisa dikunjungi ketika air laut sedang surut. Namun, saat pasang, bukit ini seperti pulau yang terpisahkan oleh air laut.

Di dekat pulau ini, banyak sekali orang yang berselancar karena saat pasang, ombaknya terbilang besar. Namun, kali ini saya hanya ingin menikmati suasana romantis yang tercipta dari rona Matahari tenggelam. Ya, begitu pun dengan sebagian orang yang menikmatinya sembari duduk di pasir putih, membiarkan kaki-kaki mereka tersapu ombak sembari melihat ‘Bola Api’ di seberang sana menghilang ditelan bumi. (M-2)

BERITA TERKAIT