31 January 2020, 18:15 WIB

Kisah Rico Huang Hingga Sukses Beli Mesin Photobook Rp10 Miliar


mediaindonesia.com | Ekonomi

BERAWAL dari sebuah musibah saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rico Huang memutuskan untuk memperbaiki kehidupan finansialnya dengan membantu orang tuanya berdagang jam tangan selama tiga tahun.

Beranjak SMP dengan modal uang jajan dan angpao, Rico pun memulai bisnis pertamanya jualan aksesoris. Sayangnya, bisnis yang digelutinya harus berakhir  bangkrut karena tak kuat bersaing dengan perang harga.  

Mulai dari situ muncul jiwa entrepreneur dalam diri Rico. Menurut Rico, “Selagi masih muda kita habisin jatah dan supaya jatah sukses kita lebih cepat datang,” ungkap Rico di Jakarta, Jumat (31/01).  

Singkat kata, bagi Rico, jatuh berkal –kali itu merupakan hal yang biasa. Petualangan bisnisnya berlanjut saat Rico memulai bisnis casing HP custom. Ia tertarik bisnis ini karena pada saat itu banyak orang yang ingin membeli casing HP dengan gambar sesuai dengan keinginan sendiri atau suka–suka, tetapi tidak ada yang bisa membuatnya.

Dari peluang bisnis casing HP custom, Rico pun mulai merambah ke kaos, topi, mug, jaket yang bisa dipesan dan jadi langganan. Hingga kemudian terbentuklah Dropshipaja.com yang tercatat sudah memiliki 85 ribu reseller di seluruh Indonesia. 

Selain di bidang produk, ekspansi bisnis Rico juga merambah ke bisnis software dan sekolah internet marketing, yang kini menjadi salah satu sekolah internet marketing terbesar di Indonesia. 

Berkat kerja kerasnya, di umur 21 tahun ia berhasil membeli mobil pertamanya, Mercy. Kemudian selang 3 tahun atau saat usinya menginjak 24 tahun, ia kembali bisa membeli mobil impiannya, Ferrari California.

Sukses dengan Dropshipaja.com, di bawah bendera PT Alona Indonesia Raya, Rico  baru membeli sebuah mesin printing seharga Rp10 miliar yang bisa mencetak satu produk yang pangsa pasarnya masih terbilang tinggi di Indonesia.

Soal pilihan bisnis ini, Rico beralasan, “Berdasarkan data dari Retail Photo Market Value 2018, di Eropa ada 1 perusahaan yang bisa menghasilkan omzet Rp120 triliun hanya dari 1 produk lewat mesin printing ini. Nah, di Indonesia ini pasarnya masih luas dan belum ada pemainnya. Jadi, peluangnya besar.” .

Berbeda dengan Ferrari, harga mesin printing ini 4x lipat lebih mahal, punya kecepatan super kilat, dan kualitas produk yang mumpuni.  Selaras dengan harganya yang super, biaya maintenance mesin printing yang bernama BAIM ini pun, diakuinya, lumayan mahal sekitar 30 juta per bulan di luar depresiasi.

“Produk ini adalah photobook /photo album. Market dari photobook adalah perempuan, para ibu muda yang memiliki anak, traveller, photographer, mahasiswa atau siapapun yang mau mencetak foto menjadi sebuah memori. Agar kenangan manis bisa tersimpan rapi dalam photo album,” katanya.

Kenapa Photobook ?

Data  dari Wearesocial menunjukkan, 60% orang di Indonesia adalah pengguna smartphone dan ada ribuan foto yang hampir dimiliki oleh penggunanya.

Selain itu foto adalah digital file yang memiliki banyak variasi produk yang bisa ditemukan di mana saja. Bisa dalam bentuk dekorasi wallpaper kantor, foto untuk wedding, sebagai kado untuk orang tersayang dan masih banyak lainnya.

Bahkan berdasarkan data dari printed photo product USA, ada 68% menggunakan foto sebagai hadiah atau untuk konsumsi pribadi.

Dengan banyaknya data dan nilai pasar yang tinggi, photobook menjadi salah satu variasi produk printing foto yang sangat bisa menjanjikan dalam sebuah bisnis kreatif.

Atas dasar inilah, Rico Huang berani membeli mesin printing ini untuk membuka peluang usaha bisnis baru di Indonesia. Terlebih belum ada pemain yang masuk dalam bisnis ini.

“Produk photobook ini akan dibuka penjualannya di platform Dropshipaja.com pada 1 Maret 2020. Jika tertarik dengan peluang bisnis melalui produk photobook ini, tidak perlu lagi khawatir keluar budget mahal untuk membeli mesin," kata Rico.

"Tinggal join, akan ada katalog siap pakai, bisa  mengatur jadwal pengiriman, banner promosi siap pakai, bisa mengirimkan produks sesuai dengan nama toko Anda. Sekaligus Anda tidak perlu banting harga dengan marketplace, sebab memang belum ada pemainnya,” demikian Rico. (OL-09).

 

BERITA TERKAIT