01 February 2020, 14:55 WIB

TNI Pastikan Pulau Natuna sebagai Tempat Karantina WNI dari Wuhan


Despian Nurhidayat | Humaniora

PANGLIMA TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang akan dijemput dari Wuhan, Tiongkok akan singgah di Pulau Natuna, Kepulauan Riau, untuk dikarantina sesuai dengan protokol kesehatan dari pemerintah.

Menurut Hadi, Natuna merupakan tempat yang cocok dan dikatakan bahwa tempat karantina yakni pangkalan militer di sana akan memiliki jarak yang aman dari penduduk sekitar.

Selain itu, Hadi pun menambahkan bahwa fasilitas kesehatan yang tersedia di pangkalan militer Natuna juga memadai.

"Pangkalan militer Natuna memiliki fasilitas rumah sakit yang dikelola oleh tiga angkatan. Jadi ada dokter dr angkatan darat, angkatan laut, dan udara," ungkap Panglima TNI saat ditemui di Terminal A Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Sabtu (1/2).

"Kemudian kami juga mempunyai runway yang berdekatan dengan wilayah yang nati akan digunakan untuk isolasi, sehingga nanti saudara-saudara kita langsung turun dari pesawat masuk ke tempat penampungan mereka," ucap Hadi.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan bahwa tempat karantina para WNI dari Wuhan juga dikatakan dapat menampung 300 orang dan dilengkapi dengan seluruh kebutuhan termasuk mandi cuci kakus (MCK) dan dapur lapangan.

Dia juga memastikan bahwa jarak tempuh dari tempat karantina menuju tempat penduduk berjarak 5-6 km.

"Jarak dari hanggar atau tempat itu sampai ke tempat penduduk kurang lebih 5-6 km, kemudian juga ada dermaga yang jaraknya kurang lebih 5 km. Sehingga dari hasil penilaian itu memenuhi syarat dan juga protokol kesehatan, dan Natuna dipilih menjadi lokasi transit sementara sampai dengan dinyatakan bebas untuk bisa ketemu keluarga," lanjut Hadi.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan proses pemindahan WNI dari Wuhan menuju Indonesia, Hadi memastikan bahwa TNI akan terus memantau dan membantu pergerak pesawat.

Baca juga : Amerika Serikat Mulai Melarang Warganya Bepergian ke Tiongkok

Dengan memberikan frekuensi militer yang diberikan langsung operator kepada pilot pesawat, diharapkan proses evakuasi ini dapat berjalan dengan lancar.

"Militer terus memantau pergerakan dari pesawat yang dipergunakan dengan memberikan frekuensi militer yang diberikan oleh operator kepada pilot dengan frekuensi tertentu yang bisa kita monitor," tutur Hadi.

"Apa yang sedang dilaksanakan di udara Tiongkok menuju wilayah udara Indonesia akan terus di pantau sampai pendaratan. Semoga proses yang telah kita rencakan bisa berjalan dengan baik," tutupnya. (Des/OL-09)

BERITA TERKAIT