01 February 2020, 10:35 WIB

Temu Misti: Laris untuk Acara Pernikahan


M-1 | Weekend

TEMU Misti bisa dikatakan sebagai maestro tari Gandrung yang tersisa. Perempuan kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, ini telah 51 tahun menekuni dan membawa tari tersebut melintas zaman.

Namun, kesetiaan Temu nyatanya berawal tanpa rencananya sendiri. Saat hadir dalam acara bincang-bincang Kick Andy, Temu mengungkapkan perjalanannya sebagai penari Gandrung berawal dari kesehatannya yang buruk saat kecil.

Putri kedua dari pasangan Mustari dan Supiah yang terlahir dengan nama Misti itu terus sakit-sakitan. Misti dalam bahasa Osing disebut kluwung gapit, yakni diapit kakak dan adik.

Ia kemudian dibawa ke seorang dukun bernama Mbah Tiah. Olehnya, nama Misti ditambahi dengan nama depan Temu yang memiliki arti mendapatkan kehidupan lagi setelah sakit.

Namun, ada pesan dari nama tersebut, yaitu ia diminta menjadi penari gandrung. Mbah Tiah ialah dukun yang juga seorang juragan Gandrung.

Sampai usia belasan, perempuan kelahiran 20 April 1953 itu mengaku sama sekali tidak ingin menjadi seorang penari. Menari baginya hanya menjadi hobi.

Namun, setelah benar-benar sembuh dari sakit, Temu pun percaya bahwa nasibnya berubah karena nama yang menjadi doa yang baik. Pada masa itu pula Temu semakin sering melihat tari Gandrung di desanya, Desa Kemiren, Banyuwangi, yang kental dengan budaya Osing.

Dia kemudian belajar tari Gandrung di usia 15 tahun. Misti menggeluti Gandrung Terop, tarian yang dipentaskan semalam suntuk. Temu dituntut untuk menari dan menembang. "Waktu itu belum ada pengeras suara, ya kempot-kempot paginya, habis teriak-teriak," kenangnya tentang pengalaman terjun menjadi gandrung profesional.

Undangan untuk pentas gandrung terus berdatangan sejak ia mulai menari pada 1968. Temu laris dipanggil untuk acara pernikahan, sunatan, acara desa, hingga tingkat kelurahan.

Dari situ lama-kelamaan Temu menjalani profesi itu sebagai hal yang ia sukai. "Saya jadi gandrung sudah telanjur, telanjur gandrung (senang) juga," ucap Temu.

Suka duka menjadi penari Gandrung juga dia lalui. Rasa lelah karena menari semalam suntuk, lokasi dan cuaca yang sering tidak mendukung, hingga bayaran yang hanya Rp25 ribu untuk sekali manggung.

Sanggar tari

Keseriusan Temu menekuni tari gandrung semakin dikenal luas. Tidak hanya masyarakat, melainkan pemerintah juga mengakui dedikasi dan keahliannya.

Pada 2015, Temu juga ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Kebudayaan sebagai maestro, untuk mengajarkan tari Gandrung kepada 15 pelajar yang terpilih.

Pada tahun yang sama, Temu juga diundang tampil di gelaran Frankfurt Book Fair, Jerman. Pada 2018, Temu mendapat Anugerah Kebudayaan dan penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbud. Seniman Didik Niniek Towok pun pernah belajar dengannya.

Kini setelah menekuni selama 51 tahun, bagi Temu, tari Gandrung adalah hidupnya. Sang maestro tari gandrung ini pun mengaku akan terus menari selama tubuhnya mampu."Selagi bisa, saya pasti akan iyakan tawaran untuk menari. Gandrung itu adalah hidup saya, tidur saya, dan mimpi saya," ujar Temu yang saat ini sudah berusia 66 tahun.

Ia juga memiliki visi untuk terus melestarikan tari Gandrung hingga generasi-generasi berikutnya. Sebab itu pula pada 2016, Temu mendirikan sanggar tari Sopo Ngiro.

Dia menyulap halaman rumahnya sebagai tempat sanggar tari itu. Sebelumnya anak-anak di Banyuwangi tidak tertarik dengan tarian tradisional, tetapi kini Temu merasakan tari Gandrung mulai digandrungi lagi.

Temu mengaku kebanyakan muridnya berusia setara SD hingga SMP. Untuk belajar menari, peserta akan ditarik Rp50 ribu untuk pendaftaran.

"Jumlah peseerta terus berganti. Ada yang sudah lulus jadi Gandrung, ada juga yang buka sanggar. Yang menjadi tantangan saya, untuk menyampaikan bahwa gandrung itu jati diri," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT