01 February 2020, 10:25 WIB

Kampus Merdeka Ajak Insan Indonesia Bermasyarakat


Staf Pengajar Universitas Terbuka Dian Budiargo | Opini

SETELAH meluncurkan kebijakan pendidikan Merdeka Belajar bagi siswa, kini mahasiswa perguruan tinggi pun tidak ke­­tinggalan mendapatkan ke­be­basan dalam belajar yang disebut Kampus Merdeka.

Seperti halnya konsep pendi­dikan Ki Hajar Dewantara yang mengedepankan ‘manusia merdeka’ sebagai tujuan pendidikan Taman Siswa, yaitu merdeka, baik secara fisik, mental, maupun kerohanian. Namun, kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damai­nya kehidupan bersama.

Hal ini mendukung sikap-si­kap, seperti keselarasan, ke­­­keluargaan, musyawarah, to­leransi, kebersamaan, demo­krasi, tanggung jawab, dan disiplin dengan membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional.

Inovasi teknologi sudah mem­bawa manusia melupakan sisi humanistisnya dan berkurangnya komunikasi anak dengan orangtua. Salah satu contohnya, secara lang­­sung dan tanpa disadari mengurangi rasa kasih yang ditimbulkan atas interaksi tersebut. Tatkala orang kehilangan rasa, akan sangat berpengaruh terhadap kepekaannya kepada sesama.

Oleh karenanya, Mas Menteri sepertinya ingin mengembalikan hakikat dari pendidikan itu dengan mengedepankan sisi humanisnya, yaitu kebebasan, tapi terkontrol melalui konsep pedagogi dan andragogi dari tokoh-tokoh pembelajaran, seperti Carl Rogers (1951) dengan aktualisasi dirinya serta Robert M Gagne (1965) dengan teori kondisi belajarnya.

Amanah

Ada empat hal yang diama­nahkan Mendikbud, yaitu oto­nom bagi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk melakukan pembukaan program studi (prodi), akreditasi perguruan tinggi dan prodi yang sifatnya otomatis dan sukarela tergantung kapan siap diakreditasi, kebebasan pergu­ruan tinggi untuk memilih tingkat status pengelolaannya satker--BLU atau PTN-BH--serta memberikan hak kepada mahasiswa mengambil mata kuliah dari prodi lain, bahkan dari kampus lain.

Dari empat poin Kampus Merdeka, tiga di antaranya di­peruntukkan bagi kebebasan perguruan tinggi dalam me­nge­lola, sedangkan poin keempat ditujukan bagi peserta di­dik atau mahasiswa dalam kebebasan memilih apa yang sesuai dengan bidangnya melalui pilihan mata kuliah.

Dari dua konsep yang ditawarkan bagi proses pembela­jar­an, yaitu Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, seperti­nya kenyamanan belajar merupakan kunci keberhasilan seseorang. Selain itu, belajar merupakan suatu proses dalam kehidupan yang harus di­lalui setiap orang.

Habermas dalam Held (1980) mengatakan bahwa masyarakat yang pintar dapat melakukan komunikasi melalui empat tahapan, yaitu truth atau kebenaran, rightness (ketepatan), sincerity (kejujuran), dan comprehensibility (lengkap).

Ini semua dapat diperoleh melalui proses belajar yang baik, yang mana peserta didik diajak menghadapi kenyataan dan melihat kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya. Me­ngapa dikatakan ber­ma­­­syarakat? Karena pada da­sar­nya setiap orang selalu me­­merlukan orang lain dan memerlukan tiga hal menda­sar, yaitu diterima, dicintai, dan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Kemudahan akses

Dengan konsep Kampus Merdeka yang memberikan keleluasaan mahasiswa berinteraksi serta mengenal perguruan tinggi dan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, membuat kepekaan sebagai insan bermasyarakat semakin terasah.

Merdeka dalam belajar konsepnya sudah dipikirkan oleh pemerintah, dengan didirikannya perguruan tinggi negeri yang menerapkan metode ja­rak jauh pada 4 September 1984 melalui Universitas Terbuka (UT).

Dengan misi utama memberikan pemerataan pendidikan tinggi bagi seluruh masyarakat Indonesia, berkembanglah tiga pilar utama dalam melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh dan terbuka, yaitu accessible, affordable, dan flexible (mudah diakses, terjangkau, dan fleksibel) dengan tagline Making Higher Education Open to All.

Konsep Kampus Merdeka ini sesuai dengan pilar fleksibelnya, yaitu bagaimana mahasiswa dapat mengatur sendi­ri proses belajarnya sesuai dengan waktu yang dimiliki. Selain itu, fleksibel juga dalam memilih model pembelajarannya, seperti secara synchronous atau unsynchronous.

Synchronous ialah bentuk interaksi yang dilakukan secara langsung maupun bermedia, yang mana umpan baliknya langsung. Sementara itu, dengan model unsynchronous, komunikasi dilakukan melalui media dengan feedback atau umpan balik tidak langsung atau tertunda.

Dengan model pembelajar­an seperti UT membuat maha­sis­wa terbiasa mengatur hi­dup­­nya secara mandiri dan ter­arah melalui proses pembe­lajarannya. UT hadir kapan pun dan di mana pun seorang mahasiswa mau belajar.

Sebagaimana UT, proses pan­jang harus dilalui untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang sudah terbiasa dengan pendidikan tatap muka untuk memahami dan menerima konsep pendidikan jarak jauh, yang mana ada keterpisahan antara maha­siswa dan dosennya.

Demikian halnya dengan konsep Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, yang memerlukan sinergi dari berbagai pihak untuk mewujudkannya.

Terdapat 4.000 lebih perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai macam karakternya yang harus berkoordinasi dalam menerapkan gagasan ini. Tidak semua menerima perubahan itu sehingga dibutuhkan upaya keras untuk mengubah sudut pandang (mindset) dari banyak pihak dalam melihat suatu perubahan.

Masih banyak PR Mas Mente­ri, tapi dengan niat baik, koordinasi, dan sinergi dengan berbagai pihak, cita-cita mewujudkan SDM yang paripurna itu dapat tergapai.

BERITA TERKAIT