01 February 2020, 09:55 WIB

Ekspor Pertanian Capai Lebih dari Rp100 Triliun


Put/E-3 | Ekonomi

MENTERI Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyampaikan nilai ekspor pertanian selama periode November-Desember 2019 mencapai kurang lebih Rp100 triliun. Angka real ini bisa jauh lebih besar jika dibandingkan dengan data ekspor yang dimiliki karantina Kementerian Pertanian (Kementan), yakni sekitar Rp160 triliun untuk semua komoditas.

“Insya Allah nanti Maret akan diumumkan oleh Bapak Presiden (Joko Widodo). Jadi, alhamdulillah, selama saya dan juga seluruh jajaran di Kementan bekerja, nilai ekspor pertanian kita naik,” ujar Syahrul dalam talk show 100 hari kerja Mentan di Gedung PIA Kementan, Jakarta, kemarin.

Menurut Syahrul, kenaikan ini sebagian besar didorong oleh prog­ram kerja Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gera­tieks) yang dilakukan para petani, eksportir, dan pengusaha. Program ini menuntut semua pegiat tani di Indonesia untuk beker­ja lebih dari biasanya.

“Kalau naiknya hanya satu kali, sudah pernah dicapai. Kalau naik­nya dua kali, pejabatnya biasa-biasa saja. Namun, kalau naiknya tiga kali, itulah yang kita harapkan bersama. Tiga kali itu ukuran yang layak untuk sebuah negara kaya raya seperti Indonesia. Untuk itu, saya akan mengintervensi semua komoditas pertanian agar semuanya tercatat dan mampu ekspor,” katanya.

Jauh dari itu, Syahrul mengharapkan adanya perubahan besar dari konsep gerakan itu. Perubahan yang dimaksud salah satunya ialah terbukanya lapangan pekerjaan secara luas.

“Memang itu yang kita harapkan, program ini mampu membuka dan membentuk lapangan kerja pasti secara luas. Intinya kalau kita mau membenahi lapangan kerja secara pasti, ya benahi saja melalui sektor pertanian,” katanya.

Syahrul mengatakan sektor pertanian ke depan harus lebih maju dan mandiri secara penuh. Pertanian ke depan harus berkonsep modern dengan perlengkapan canggih seperti penggunaan artificial intelligence.

Untuk menunjang data dan mengembangkan konsep tersebut, Kementan sudah membentuk kelembagaan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) dengan alat utamanya agriculture war room (AWR). Kostratani diproyeksi menjadi pusat data dan informasi perkembangan pertanian secara real-time.

Di samping itu, Syahrul menyampaikan pentingnya membangun kesadaran bersama terkait penerapan lahan pertanian dan pangan berkelanjutan (LP2B) sebagai implementasi UU 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian. (Put/E-3)

BERITA TERKAIT