01 February 2020, 09:45 WIB

Peringkat Utang RI kian Membaik


Despian Nurhidayat | Ekonomi

LEMBAGA pemeringkat kredit Japan Credit Rating (JCR) telah menaikkan peringkat utang (rating) Indonesia pa­­da posisi BBB+ dengan outlook stable. Sebelumnya pada April 2019, JCR juga telah memberikan peringkat utang Indonesia BBB dengan outlook positive.

Dalam laporannya, JCR menyata­­kan bahwa peningkatan itu didasar­kan atas penilaian JCR tentang per­­tumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat ditopang oleh konsumsi domestik, defisit anggaran pendapat­an dan belanja negara (APBN) dan utang pe­merintah pusat yang terkendali, ketahanan terhadap gejolak eksternal, yang didukung oleh nilai tukar yang fleksibel serta kebijakan mo­ne­ter dan cadangan devisa yang cukup kuat.

“JCR mengapresiasi reformasi ber­kelanjutan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo, termasuk re­formasi belanja pemerintah dan pembatasan subsidi bahan bakar, serta pengembangan infrastruktur yang terus mengalami kemaju­an dan lebih cepat dari yang diharap­kan,” ungkap Kepala Biro Komunika­si dan Layanan Informasi, Kementeri­an Keuangan, Nufransa Wira Sakti, dilan­sir dari keterangan resmi, kemarin.

“JCR juga menaruh perhatian pa­da upaya penyederhanaan peraturan melalui omnibus law untuk memfasilitasi foreign direct investment (FDI) sebagai penyeimbang defisit transaksi berjalan (current account deficit),” lanjutnya.

Lebih lanjut, JCR juga menilai bah­wa pemangkasan defisit fiskal menjadi 1,76% per produk domestik bruto (PDB) dalam APBN 2020 dan upaya menekan utang pemerintah pusat menjadi kurang dari 30% per PDB. Ini dikatakan menjadi rencana yang feasible dapat dicapai oleh pemerintahan saat ini.

Ketahanan ekonomi

Kenaikan peringkat utang JCR merupakan bentuk pengakuan JCR atas ketahanan kondisi perekonomi­an Indonesia di tengah tantangan perekonomian global yang tidak pas­ti. Pemerintah Indonesia meman­faat­kan penilaian peringkat kredit JCR untuk mendorong peningkatan in­ves­­tasi langsung dari luar negeri dan masuk ke pasar obligasi Jepang.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, secara umum pertumbuhan ekonomi tetap relatif stabil di atas 5% berkat dukungan permintaan domestik yang terus membaik, yakni hal ini konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta kinerja neraca perdagangan dengan pertumbuhan positif produk ekspor pada triwulan IV-2019.

“Daya beli masyarakat juga membaik ditandai dengan nilai tukar petani tumbuh sebesar 1,03% yoy (year on year) dan upah buruh tani sebesar 0,3% yoy pada Desember 2019,” ungkap Airlangga.

Kepala Ekonom BCA, David Su­mual, mengatakan bahwa naiknya peringkat utang (rating) Indonesia pada posisi BBB+ dengan outlook stable, menurut Japang Credit Rating (JCR), memiliki dampak yang positif bagi Indonesia. Pasalnya, dengan ini Indonesia telah meningkatkan posisi di atas investment grade.

Pada tahun lalu Indonesia juga berhasil meningkatkan peringkat di posisi BBB. Hal ini akan berdampak pada rating agency yang akan memberikan rating di atas investment grade untuk Indonesia.

“Berarti ada peningkatan, sudah 2 notch di atas investment grade. Jadi, berita gembira karena biasanya tahun lalu sudah S&P, yah menaikkan 1 notch di atas investment grade, jadi sekarang semua rating agency sudah me-rating kita investmen gra­de bahkan di atas investment gra­­de,” ungkapnya kepada Media In­do­nesia.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pe­ningkatan ini juga telah mencerminkan sisi fundamental makro Indonesia yang memiliki perbaikan yang cukup signifikan. (E-3)

BERITA TERKAIT