01 February 2020, 08:35 WIB

Inggris Resmi Keluar dari Uni Eropa


Rifaldi Putra Irianto | Internasional

INGGRIS resmi memulai langkah bersejarah dengan mengakhiri keanggotaannya di Uni Eropa, kemarin. Ini berarti Inggris ialah negara pertama keluar dari blok yang beranggotakan 28 negara tersebut.

Keluarnya Inggris atau Bre­xit tersebut bermula dari pemungutan suara pada 2016 yang akhirnya menimbulkan perseteruan antarwarga Inggris.
Meski demikian, Perdana Menteri Boris Johnson, selaku pendukung Brexit, menyatakan Inggris bakal lebih sejahtera.

“Tugas saya ialah menyatukan Inggris dan membawa kemakmuran untuk Inggris. Brexit bukan akhir, melainkan permulaan. Saatnya Inggris memasuki era baru yang lebih sejahtera,” ungkap Johnson, kemarin.

Johnson kemarin juga me­mim­pin rapat kabinet khusus di Sunderland, kota di barat daya Inggris yang pertama kali mendukung Brexit pada 2016.

Setelah itu, Johnson mengadakan resepsi di kediamannya, Downing Street 10, yang ditutup dengan festival kembang api. Pemerintah juga merilis koin khusus sebagai kenang-ke­­nangan.

Di sisi lain, warga yang dalam pemungutan suara memilih tetap bertahan dalam Uni Eropa, melakukan acara penyalaan lilin sebagai tanda berkabung.

“Ini ialah hari penuh kesedih­an dan kemarahan,” tegas Nico­la Sturgeon, Menteri Urusan Skotlandia. Pada 2016, Skotlan­dia mendukung opsi tetap bertahan dalam Uni Eropa.

Sturgeon berjanji akan makin menggiatkan kampanye demi kemerdekaan Skotlandia dari Inggris yang pernah ditolak dalam referendum tahun 2014.

Masa transisi

Setelah ini, Inggris akan memasuki masa transisi selama 11 bulan sambil menunggu se­lesainya perundingan dengan Uni Eropa terkait perdagangan, perbatasan, dan lainnya.

Warga Inggris masih dapat bekerja dan berdagang secara bebas di negara-negara Uni Ero­pa hingga 31 Desember 2020. Pun sebaliknya meskipun Inggris tidak lagi hadir dalam pertemuan Uni Eropa.

Terkait perdagangan, Inggris masih harus menunggu bentuk negosiasi yang akan ditawarkan oleh Uni Eropa sebagai mitra dagang terbesarnya pada pekan depan.

“Kami ingin mewujudkan hu­bungan yang baik dengan Inggris, tetapi tentu tidak sebaik saat masih menjadi anggota Uni Eropa. Kami sudah belajar dari pengalaman bahwa satu negara akan kuat jika tidak mengisolasi diri,” kata Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.

Optimistis

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, menyatakan Inggris sangat optimistis dalam menyongsong hari baru sebagai negara yang mandiri dengan segala pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.

Ia juga menyebutkan Inggris masih akan berkomitmen menjamin perdamaian dunia yang lebih baik.

Jenkins juga menyebut Bre­xit ialah peluang besar bagi In­donesia. “Hubungan Inggris-Indonesia akan lebih baik. Brexit akan membuat Inggris berusaha untuk memperkuat kemitraan dan membangun fondasi kuat di seluruh dunia. Ini bisa menjadi hal yang baik untuk Indonesia,” ungkap Jenkins di Kedutaan Besar Inggris, Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan Brexit tidak akan terlalu berdampak kepada perekonomian global. “Yang harus lebih diperhatikan ialah seperti apa kesepakatan ekonomi antara Inggris dan Uni Eropa,” ungkapnya. (AFP/Des/X-11)

BERITA TERKAIT