01 February 2020, 07:55 WIB

Bersiap-siap bila Dijemput Sewaktu-waktu


Indriyani Astuti/Ant/X-7 | Internasional

SEJAK Kamis (23/1), Teuku Agusti Ramadhan, mahasiswa Aceh asal Kota Sabang, terkurung di Universitas Zhongnan, Wuhan. Ia yang sedang menempuh pendidikan S-2 untuk program studi ekonomi dan hukum merupakan satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berada di universitas tersebut.

“Saya dan belasan mahasiswa Aceh lainnya di Wuhan terus berkomunikasi dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tiongkok terkait teknis evakuasi,” ujarnya.

Menurut Agusti, sejak kemarin ia dan yang lainnya mulai persiapan evakuasi, tetapi belum mengetahui kapan waktunya. “Kami masih menunggu teknis evakuasi. Kalau teknis bergerak dan berkumpul ke suatu titik, itu tidak memungkinkan sebab transportasi di Wuhan lumpuh. Taksi juga tidak ada. Kondisi Kota Wuhan saat ini masih sama, belum ada perkembangan,” tambah Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh di Wuhan.

Agusti mengatakan pihak berwenang di sana terus mengingatkan untuk tidak beraktivitas di luar ruangan. “Jadi, kami terus bertahan di kamar. Tidak hanya mahasiswa Aceh, penduduk setempat pun berdiam diri di rumah ketimbang di luar. Semua fasilitas publik, seperti transportasi, tidak beraktivitas,” jelasnya lagi.

Kalaupun keluar, lanjut Agusti, pakaian yang digunakan langsung dicuci saat kembali. Sepatu juga dibersihkan dengan alkohol guna menghindari virus korona.

Hal yang sama juga dialami Hilya Milla, mahasiswi dari Chongqing University. Menurut mahasiswi jurusan bisnis administrasi yang tinggal bersama suaminya (mahasiswa juga) di apartemen  Opstic Valley Squre, Wuhan itu, belum ada evakuasi. Namun, Milla mengaku masih bisa keluar apartemen dengan motor listrik asalkan menggunakan masker. Ia mengatakan pihak KBRI telah memberikan bantuan dana untuk membeli logistik selama menunggu evakuasi. Ia bersama WNI lainnya masih bisa mengatasi kebutuhan.

“Logistik cukup untuk tujuh hari. Kami tidak seburuk yang dibayangkan. Kami tidak dikurung. Tidak pula kelaparan. Pihak KBRI terus menjalin komunikasi dan memantau kami, serta memberikan bantuan,” ujarnya.

Milla mengatakan, di wilayahnya belum ada isolasi, tetapi sejak 23 Januari pemerintah setempat menghentikan semua jenis transportasi. (Indriyani Astuti/Ant/X-7)

BERITA TERKAIT