01 February 2020, 03:30 WIB

Kesetiaan dalam Kaleng Khong Guan


Galih Agus Saputra | Weekend

BANYAK orang penasaran mengapa sosok ayah dalam keluarga Khong Guan tak pernah tampak di meja makan? Kata anak laki-lakinya, “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.” Anak perempuannya menyahut, “Ayahku sedang menjadi nasionalisme yang bingung dan bimbang.”

Si Ibu angkat bicara, “Ayahmu sedang menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan.” “Semoga Ayah tetap terbit dari timur, ya, Bu,” ujar kedua anak yang pintar itu. “Bodo amat ayahmu mau terbit dari mana,” balas si ibu, “Yang penting bisa pulang dan makan bersama.”

Percakapan mereka termaktub dalam antologi puisi terbaru Joko Pinurbo, penyair yang identik dengan celana. Antologi yang diberi judul Perjamuan Khong Guan itu baru-baru ini dirilis Jokpin, sapaan akrabnya, dengan Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu pengulas.

Tak seperti kaleng biskuit Khong Guan yang suka memberi harapan palsu--ketika dibuka isinya bukan biskuit. Kadang rengginang, kadang peyek, kadang pula keping­an rindu yang membatu (hlm. 105)--buku Perjamuan Khong Guan memberi kepastian kepada penikmat puisi-puisi Jokpin. Sang penyair, dalam antologi terbarunya tersebut, tetap setia dengan gaya khasnya: puisi yang dirangkai dari bait-bait pendek, dihidupkan oleh persinggungan nakal diksi-diksi sederhana.

Menurut pria kelahiran 11 Mei 1962 itu, panjang dan pendek sebuah puisi pada dasarnya bukan masalah. Yang lebih penting ialah impresi puisi tersebut di benak pembaca.

“Pancasila itu juga pendek sekali. Cuma lima ayat, tapi sampai sekarang jadi perkara yang tidak selesai-selesai. Sumpah Pemuda juga begitu. Jadi, saya kira selama ini saya mempunyai pertimbangan tersendiri untuk ini karena memang ingin yang pendek-pendek dan narasinya ringan-ringan,” tuturnya pada aca­ra peluncuran Perjamuan Khong Guan, di Jakarta, Minggu (26/1).

Separuh berseloroh, tokoh sastra pilihan Tempo 2001 dan 2012 itu menambahkan, panjang puisi dalam antologi kali ini sebenarnya ialah ukuran yang dibuat untuk pembaca dapat menikmatinya sambil minum dan menghabiskan rengginang yang biasa ditempatkan dalam kaleng Khong Guan. Namun, ia juga mengatakan bahwa ke depannya tidak akan berhenti dengan teknik demikian karena sudah memiliki berbagai macam gambaran atau bentuk penulisan.

Bebunyian

Perjamuan Khong Guan juga menjadi ajang bersetia Jokpin dengan permainan bebunyian bahasa seperti bisa disimak di puisi berjudul Musik Khong Guan: ‘Ada kaleng Khong Guan ditabuh malam-malam, mengagetkan sa­rung yang sedang tafakur di pagar halaman. Ada kaleng Khong Guan menggelinding malam-malam, memanggil masa kecil yang berayun-ayun di tali jemuran’.

Soal bunyi, diakui Sapardi sebagai salah satu elemen penting dalam puisi. Ia menjelaskan, bunyi dan bahasa tutur keberadaannya sa­ngatlah menarik, apalagi jika ditiru selama proses penulisan puisi. “Jadi, misalnya, sengaja menulis Tuhan, Tuhan tu han tu han tu hantu hantu, tuhan jadi hantu, itu hanya permainan bahasa. Jadi, bunyi itu sangatlah penting di situ,” terangnya dalam kesempatan serupa.

Bahkan, pada salah satu pernyataannya di waktu lampau, ‘Penyair Hujan’ itu pernah mengemukakan bahwa kadang demi ‘bunyi’ makna puisi bisa saja disisihkan.

Menyoal hubungan antara pui­sinya dan realitas, Jokpin menambahkan, hal demikian bukanlah sesuatu yang bisa ditanyakan kepada seorang penyair. Itu karena, katanya, seperti yang dibilang Sapardi, seorang penyair pada dasarnya ialah tukang ‘ngibul’ karena selalu memiliki jawaban yang bermacam-macam.

“Jawaban saya di sini mungkin akan berbeda dengan jawaban saya di lain tempat dan dalam kehidupan nyata tidak ada tukang ojek dikasih bayaran kok nolak. Dalam puisi bisa berarti (puisi-red) itu bukan pengalaman saya kan,” imbuhnya.

Selama ini, lanjut Jokpin, banyak orang yang mungkin terkecoh dengan apa yang dilakukan penyair. Kala dia menulis puisi berjudul Kunang-Kunang (2010), misalnya, banyak yang mengira bapaknya sudah meninggal, padahal beliau masih hidup dan sehat.

Pada kesempatan lainnya, kala dia banyak menulis puisi soal Ibu, ada kritikus yang mengatakan bahwa dirinya mengidap oedipus complex. Padahal, dalam kehidupan nyata, Jokpin mengatakan bahwa dirinya jarang ketemu ibunya karena ia berada di Yogyakarta, sementara sang Ibu ada di Sukabumi.

“Tapi kalau puisi saya nyambung, menjawab kebutuhan rohani Anda, ya syukurlah,” ujar Jokpin.
Menambahkan apa yang dijelaskan Jokpin, Sapardi mengatakan bahwa puisi pada dasarnya memang tidak mengenal aturan. Aturan atau pakem, menurutnya, hanya akan mereduksi kreativitas penyair dalam melahirkan karya-karyanya.

Berhubungan dengan hal itu, Sapardi juga menceritakan bahwa pada era 1970-an ada sebuah fenomena yang disebut puisi mbeling dan identik dengan sosok Remy Sylado. Masa-masa itu, kata Sapardi, selanjutnya juga menyadarkan banyak orang bahwa dalam sebuah puisi tidak ada yang namanya aturan.

Kaleng-kaleng

Dengan ketebalan 130 halaman, Perjamuan Khong Guan menyajikan 80 puisi dalam empat ‘kaleng’ atau bab. Bab pertama mencerminkan fenomena yang barang tentu sedang tren atau hangat di era ini. Ia dekat dengan persoalan teknologi dan perangkat digital.

Di bab-bab lain, Jokpin juga tampak mengelaborasi persoalan politik, nasionalisme, kebangsaan, dan tentu saja bahasa, kopi, serta Yogyakarta. Kemudian, ada pula satu bab yang seluruhnya berkenaan dengan Minnah, seorang gadis yang menyelami buku, dan terkadang rambutnya menjadi keriting karena terlalu banyak membaca.

Walakin, ternyata nama itu hasil ‘pelesetan’ dari sosok artis asal Korea Selatan, Mi­­n-ah. Rupanya Jokpin tergelitik dengan fenomena demam K-pop yang melanda sebagian masyarakat Indonesia, atau mungkin demam itu juga menjangkitinya?

Sungguh menarik antologi ini karena dari kudapan--atau lebih tepat mungkin, kalengnya--yang cukup populer dan melegenda, yaitu Khong Guan, Jokpin bisa mengaitkannya dengan berbagai macam fenomena berikut kompleksitas di dalamnya.

Jokpin juga cukup jeli dalam melihat ‘Khong Guan’ sebagai produk kebudayaan. Sebagaimana diketahui, biskuit Khong Guan dan kalengnya sempat memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Ia ada di ruang tamu saat Lebaran dan sering menjadi saksi bisu berbagai momen yang mengundang tawa, haru, atau bahagia. Hal itu barangkali juga selaras dengan apa yang dikatakan Jokpin tentang karya terbarunya ini. Khong Guan sebagai identitas, mewakili berbagai macam perspektif, selain juga terbuka, toleran, dan penuh cinta.

Oh ya, seperti biasanya, pada kesempatan ini, Jokpin juga konsisten menunjukkan minat artistiknya atas karya maupun sosok Sapardi sebagai penyair yang ia idolai. Dalam salah satu puisi, ia mengawali dengan larik yang mengingatkan pencinta puisi Sapardi pada Hujan Bulan Juni. Penasaran? Sila disimak puisi Minuman Khong Guan dalam buku terbaru Jokpin ini. (M-2)

 

BERITA TERKAIT