01 February 2020, 03:00 WIB

Setengah Abad Bertahan dari Jerat Tirani


Dio/M-2 | Weekend

“KEBEBASAN pers adalah benteng besar kebebasan yang tidak akan pernah bisa dikendalikan, kecuali oleh pemerintahan yang zalim.” Pernyataan yang diungkapkan Presiden ke-3 Amerika Serikat, Thomas Jefferson, itu, pernah dialami sejumlah media cetak di Indonesia, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru.

Sejumlah surat kabar seperti Indonesia Raya, Sinar Harapan, harian Prioritas (milik Surya Paloh), Majalah Tempo, Tabloid Detik, dan Editor, pernah kena teror penguasa berupa pemberedelan. Namun, itu semua tidak menyurutkan para pengelola maupun awak redaksinya untuk bangkit kembali.

Media Indonesia, yang sebagian besar awaknya merupakan mantan wartawan Prioritas, termasuk salah satunya. Tidak bisa dimungkiri, koran yang pertama kali diterbitkan Teuku Yousli Syah dkk pada 19 Januari 1970--kemudian diambil alih pengelolaannya di bawah manajemen PT Citra Media Nusa Purnama milik Surya Paloh--mengusung misi untuk tetap menyuarakan kebebasan kendati di era tersebut, teror sensor, intimidasi, dan pembungkaman selalu mengancam.

Melalui buku Meniti Tirani Jurnalisme, para mantan wartawan Media Indonesia, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif, menuturkan suka-duka mereka selama bekerja di koran yang awalnya bermarkas di Jalan Gondangdia Lama 46, Menteng, Jakarta Pusat, dalam menyuarakan kebebasan.

Dalam buku yang diterbitkan untuk memperingati ulang tahun ke-50 harian tersebut, diceritakan bagaimana surat kabar ini berulang kali lolos dari lubang jarum pemberedelan gegara terlalu keras bersuara, mulai tajuk yang menyamakan Soeharto--penguasa ketika itu--dengan Firaun (hlm 16), hingga pemberitaan soal Waduk Kedung Ombo (hlm 158). Beberapa awak redaksi harian itu juga pernah diintimidasi tentara (hlm 44).

Namanya buku antologi, tentu tidak semua isinya seragam bicara tentang upaya wartawan MI (Media Indonesia) dalam menegakkan demokrasi. Buku setebal 250-an halaman itu juga memuat cerita-cerita kecil di seputaran newsroom atau ruang redaksi, cerita-cerita konyol sebagai nostalgia para penghuni di dalamnya.

Dari sebagian besar para penulis di buku ini, mereka umumnya rata-rata mengaku bangga pernah berkarier dan menimba ilmu di ‘Universitas Gondang­dia’ tersebut yang dikelola penuh idealisme dan rasa kekeluargaan.

Zaman mungkin telah banyak berubah. Iklim politik pun tidak seperti dulu. Pers makin bebas. Kehadiran internet seolah membuka keran informasi seluas-luasnya bagi khalayak. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi surat kabar berusia 50 tahun yang kini bermarkas di Jalan Pilar Mas Raya, Kedoya, Jakarta Barat, tersebut. Seperti dipesankan Surya Paloh dalam kata pengantar buku itu, Media Indonesia harus siap meniti langkah ke era yang lebih baru dan mungkin lebih sulit daripada era tirani. (Dio/M-2)

BERITA TERKAIT