31 January 2020, 21:40 WIB

Teman dan Keluarga Meningkatkan Nafsu Makan


Galih Agus Saputra | Weekend

SELAIN resep atau racikan masakan, teman dan keluarga tampaknya juga dapat menjadi pemicu meningkatkannya nafsu makan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di University of Birmingham, Inggris, sejumlah peneliti dari Inggris bahkan berani menjamin bahwa seseorang bisa makan lebih banyak dalam sebuah perjamuan ketimbang makan sendirian.

Dilansir Science Daily, para peneliti turut menjelaskan bahwa uji coba yang dilakukan di sebuah restoran menunjukkan nafsu makan seseorang meningkat hingga 48% ketika ia datang bersama kerabat maupun koleganya. Porsi ini lebih besar, bahkan ketika dibandingkan dengan porsi makan seorang perempuan obesitas dan datang sendirian, yang hanya meningkat sebanyak 29%.

Para peneliti menjelaskan bahwa kebiasaan ini pada dasarnya telah menjadi bagian hidup manusia sejak era berburu dan meramu. Menurut mereka, kala itu kawanan manusia memang sudah menganut budaya berbagi makanan, yang mana budaya ini juga menjadi sebuah mekanisme bertahan hidup secara komunal.

Selain itu, menurut para peneliti, norma sosial yang dimiliki manusia di era modern seperti saat ini juga memiliki kemungkinan yang besar untuk 'menyediakan makanan lebih banyak'. Menyediakan makanan juga kerap dikaitkan dengan pujian dan penghargaan dari suatu individu terhadap teman dan keluarga, yang pada akhirnya turut memperkuat ikatan personal maupun sosial.

Pemimpin Penelitian dari School of Psychology, University of Birmingham, Helen Ruddock, sebagaimana dilansir Scincedaily, mengatakan bahwa fenomena ini menjadi bukti kuat alasan seseorang lebih memilih makan bersama teman dan keluarga daripada sendirian.

"Namun demikian, kami tidak meneliti efek dari peningkatan nafsu makan ini, tidak mengamati asupan makanan yang dikonsumsi orang-orang," tuturnya.

Ruddock juga menjelaskan bahwa penelitian ini juga mengafirmasi adanya transisi atau tren dari kehidupan manusia khususnya yang berhubungan dengan makanan atau kegiatan makan.

"Jika dahulu mereka lebih cenderung berburu dan meramu, hal tersebut sudah tidak 'diwariskan' lagi karena kondisi georafis atau lanskap di sekitarnya telah menyediakan persediaan yang melimpah," katanya.

Para peneliti selanjutnya turut menjelaskan bahwa, dalam kasus ini manusia bisa dipahami telah menjalani sebuah fenomena atau era yang tidak menudukung 'evolusi berburu dan meramu'. Namun begitu, manusia sudah tiba pada sebuah masa yang lebih mengedepankan proses menimbun atau menyimpan makanan, hingga kemudian mendistribusikannya secara adil, merata, dan berkelanjutan.

Penelitian dengan metode serupa juga telah diterapkan pada ayam, tikus, dan beberapa spesies lainnya yang menjadi kawan manusia di dunia. Hasil akhir menunjukan bahwa mereka tampak lebih banyak bersaing untuk memperebutkan sumber daya, dimana proses perebutan selanjutnya juga mengakibatkan keterasingan, yang pada tahap kronis mengganggu ketahanan pangan. (M-1)

BERITA TERKAIT