31 January 2020, 06:20 WIB

Jerusalem, Proposal Damai Trump, dan Gincu Palestina


Ibnu Burdah Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Opini

ISU paling sensitif dalam rencana perdamaian Trump, Selasa (28/1), ialah masalah Kota Jerusalem. Menurut proposal itu, Kota Jerusalem tidak terbagi dan akan diserahkan sepenuhnya kepada Israel. Sedikit aneh, ibu kota Palestina juga dinyatakan akan berada di Jerusalem.

Selentingan yang dikabarkan media-media kredibel menyebut ibu kota Palestina itu berada di Abudis. Wilayah ini memang merupakan bagian dari perluasan Jerusalem dan bukan termasuk Jerusalem Timur yang diperselisihkan. Gagasan ini sebelum diumumkan kemarin sesungguhnya sudah disosialisasikan kepada beberapa aliansi AS di kawasan.

Anehnya, sikap sebagian pemimpin Arab dikabarkan tidak begitu berkeberatan dengan rencana tersebut kendati jelas mengorbankan perjuangan panjang Palestina.

Pengabaian Arab

Selama satu dekade terakhir, masalah Palestina seperti dicampakkan para pemimpin Arab. Mereka hampir tidak menaruh perhatian terhadap persoalan Palestina. Mereka abai karena disibukkan dengan persoalan sendiri yang tidak ringan akibat badai Arab spring yang menerjang kawasan dan mengancam survival kekuasaan mereka.

Gerakan protes di sejumlah negara Arab dan turbulensi yang mengiringinya selama sekitar sembilan tahun terakhir membuat keamanan kawasan itu makin tak stabil. Aktor-aktor baru di luar negara dengan sepak terjang yang mencengangkan muncul ke permukaan.

Kepentingan antarnegara juga sering tak bisa dikompromikan dan berujung pada benturan kepentingan. Perselisihan dan konflik bersenjata makin menonjol, baik dalam arena domestik maupun antarnegara di kawasan itu.

Salah satu dampak dari ketidakpastian keamanan ini ialah ancaman terhadap survival rezim, terutama rezim-rezim diktaktor dan monarki-monarki despotik. Para rezim di dunia Arab tak lagi bisa duduk tenang menikmati kekuasaan dan limpahan kekayaan. Mereka harus bersiap setiap saat untuk menghadapi potensi munculnya protes rakyat.

Pekerjaan untuk membendung protes ini sejak dini tak mudah. Hal itu karena yang mereka hadapi tak lagi kelompok-kelompok definitif dengan pemimpin, ideologi, dan tujuan yang jelas. Yang mereka hadapi ialah makhluk baru yang bernama media sosial (medsos). Kesaktian medsos tak perlu diragukan lagi dalam membentuk pikiran, menggerakkan massa secara spontan, dan kemudian menjatuhkan rezim secara kejam. Tunisia, Mesir, Libia, dan Yaman jadi saksinya.

Terlupakan

Rezim-rezim Arab sangat cemas dengan survival kekuasaannya. Maka itu, pusat perhatiannya ialah mempertahankan kekuasaan dari sumber ancaman, terutama dari tekanan rakyat di samping oleh musuh-musuh regionalnya. Karena itu, sebagian besar tenaga dan sumber daya dikerahkan untuk menghadapi ancaman ini.

Isu-isu yang tak menyangkut secara langsung dengan hal itu kecil sekali mendapat perhatian. Dalam hal ini ialah masalah perdamaian Palestina, khususnya menyangkut isu Kota Jerusalem.

Padahal, isu ini seharusnya mendapat perhatian bersama. Negara-negara Arab itu perlu membantu membuat terobosan yang menentukan tentang Kota Jerusalem sebelum semuanya terlambat.

Situasi Jerusalem saat ini memerlukan langkah bersama mereka secara konkret dan segera. Pertama, langkah unilateral yang dilakukan AS dan sejumlah negara membuat posisi Palestina dalam masalah Jerusalem makin lemah. Setidaknya saat ini sudah ada beberapa negara yang mengikuti langkah AS mengakui atau memindahkan kedutaannya ke Jerusalem, yaitu Guatemala, Paraguay, Honduras, dan Nauru.

Kedua, perubahan sikap politik negara-negara itu memperparah kondisi di lapangan. Posisi Palestina makin terpojok. Sementara itu, realitas di lapangan menunjukkan karakter kota itu makin Yahudi, setelah lebih dari lima dekade berada dalam kekuasaan Israel.

Membiarkan status quo dan menunda proses negosiasi sama dengan menutup peluang Palestina untuk mendapatkan sebagian saja dari kota itu. Rencana Trump membuka negosiasi bagaimanapun kesempatan penting bagi Palestina kendati formulanya benar-benar jauh dari harapan.

Problem persatuan

Problem utama negara-negara Arab dan juga Palestina saat ini ialah persatuan. Meski diskusi penulis dengan sejumlah pakar di Palestina menunjukkan bahwa persatuan masih merupakan nilai penting yang diperjuangkan semua faksi, kenyataan menunjukkan fakta lain.

Keterpecahan ialah realitas Palestina. Dengan keterpecahan ini tentu juga tidak mudah bagi Israel untuk bernegosiasi, apalagi memberikan konsesi signifikan. Bagaimanapun Israel juga memerlukan patner untuk proses perdamaian kendati mereka juga menghadapi masalah politik domestik yang makin ke kanan.

Tak kalah rumit ialah persatuan Arab. Liga Arab tak ubahnya kertas kosong yang tak ada pengaruhnya di lapangan. Organisasi ini benar-benar tumpul untuk jadi sarana pemersatu kelompok-kelompok yang berseteru. Alih-alih, organisasi ini memperparah perpecahan sebab ia dijadikan alat oleh beberapa negara yang memonopolinya untuk menekan negara-negara Arab lawan.

Dengan situasi ini kita paham mengapa tak ada perlawanan berarti dari organisasi ini atau negara-negara Arab terhadap langkah unilateral Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. Pemindahan kedutaan AS pada hari pendirian negara Israel juga tak memperoleh respons yang diharapkan, kecuali gembar-gembor yang tak berefek di lapangan. Demikian juga proposal damai Trump 2020 saat ini yang benar-benar menyebalkan.

Sebagian negara Arab sepertinya sudah menyerah dengan skenario AS terhadap Jerusalem. Jika 'deal Abad-21' sebagaimana yang tersebar di media jadi kenyataan, Palestina harus mengucapkan wadda'an, selamat tinggal kepada Kota Jerusalem. Di atas kertas, skenario ini yang ada di atas meja ialah Trump's plan ini.

Hal ini semua tidak terlepas dari kekacauan yang berujung pada tingginya ketidakpastian di kawasan ini. Rezim Arab siap melakukan apa pun untuk mengamankan survival kekuasaannya, termasuk melakukan langkah-langkah gila dengan menggenangi kawasan dengan senjata-senjata mahal superdestruktif. Namun, tidak untuk urusan Jerusalem atau Palestina secara umum.

Mungkin sesekali mereka beretorika tentang Palestina dan mengenai isu Jerusalem. Namun, tak ada kredibilitas dalam semua itu. Apa yang mereka katakan tentang perdamaian Israel-Palestina dan khususnya mengenai isu Jerusalem sangat jauh dari apa yang mereka lakukan. Jerusalem ialah gincu yang tak lagi menarik bagi mereka. Wallahualam.

BERITA TERKAIT