30 January 2020, 23:15 WIB

Menjaga Kearifan Lokal di Serambi Mekkah


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

KISAH Provinsi paling ujung Sumatera, Aceh, dalam sejarah panjang perjuangan melawan penjajah tertoreh dengan tinta emas. Termasuk kegigihan masyarakat Aceh dalam mempertahankan tanah air dalam upaya menjaga kearifan lokal. Kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Aceh, menjadi semangat seorang putra Aceh untuk memperlihatkan kembali kepada dunia, ikhtiar menjaga kearifan lokal di Serambi Mekkah.

Politikus sekaligus penggagas Kenduri Kebangsaan, Teuku Taufiqulhadi mengatakan sejak konflik berkepanjangan di Aceh mengakibatkan sejumlah problematika, mulai dari pendidikan, pembangunan, bahkan tradisi dan budaya juga kian dilupakan generasi penerus.

"Nah Kenduri kebangsaan ini, untuk membangkitkan lagi, mengali dan memperkenalkan kembali kepada generasi sekarang bagaimana Aceh lahir dan megah dengan tradisinya," kata pria yang akrab disapa Taufiq, di Jakarta Barat, Kamis (31/1).

Dia menjelaskan masyarakat Aceh menginterpretasikan dirinya dengan sebuah pribahasa, adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala, kanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana.

"Adat itu yang diciptakan Sultan Iskandar Muda sebagai jati diri orang Aceh, hukum itu mengenai syariat yang dijalankan di Aceh sebagai rujukan dari Ulama Aceh yang termasyur Syekh Abdurrauf As-singkil atau lebih dikenal Syiah Kuala," terangnya.

Kemudian kanun itu adalah regulasi yang digagas oleh Putroe Phang isterinya Sultan Iskandar Muda, sedangkan Reusam adalah tradisi yang berlaku sehari-sehari yang tidak terkait dengan hukum.

"Apabila seorang lebih paham tentang Reusam maka adabnya semakin mulia. Begitu juga tradisi memulai tamu dan menyambut tamu dengan Ranup," jelasnya.

Dia menambahkan, adat istiadat yang diformulasikan dalam Reusam itu dirawat dan dijunjung tinggi. Bahkan tradisi meugang masih dijalaninya dengan berbagi daging sapi ke Kampung halamannya.

"Sebenarnya semua reusam bersifat sosial, tetapi cara pelaksanaan berbeda seperti etika dalam memperlakukan orang dan berbagi sesama,"

Peradaban Aceh sangat tinggi, oleh karena itu bagaimana upaya memperkenalkan Reusam kembali anak-anak muda Aceh. Pria lulusan HI Universitas Padjadjaran Bandung tak memungkiri generasi muda Aceh mulai meninggalkan Reusam tersebut.

Sosiolog Humam Hamid, menjelaskan terkait generasi muda Aceh yang mulai meninggalkan adat istiadat atau reusam itu sendiri hal yang lumrah. Namun, sebagai generasi terdahulu ia mengingatkan agar terus menyampaikan dan mengajarkan kebiasaan tersebut.

"Kita sampaikan bahwa kita punya kebiasaan, tradisi dan nilai yang bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tidak bisa sesuatu yang sangat kuno itu pertahankan,"

Budayakan itu memiliki dua cara seberapa kuat daya tahan dan seberapa hebat daya adaptasi. Oleh karena itu, menjadi tugas semua pihak untuk melihat mana yang bisa bertahan.

"Ini melihat bagaimana respon kreatif, masyakarat Islam juga merespon perkembangan zaman dengan berbagai cara," terangnya.

Sementara itu, salah seorang tokoh dan seniman asal Aceh, Rafly Kande yang turut hadir dalam agenda Kenduri Kebudayaan yang akan digelar di Bireuen Aceh pada 21 Januari mendatang.

Ranup merupakan dau sirih yang menjadi tradisi masyarakat Aceh dalam memuliah tamu. Daun sirih yang diolah sedemikian rupa dengan campuran biji pinang, cengkeh dan kapur sirih.

"Itu juga ada khasiatnya, untuk obat dan kebugaran tubuh," kata Rafly

Rafly Kande yang kembali mempopulerkan lagu Ranup menjelaskan bahwa dalam lirik lagu itu menggambarkan masyarakat Aceh yang dilahirkan dalam titisan darah penuh kepedulian.

"Gaseh meugase, bila meubila, itu artinya ada kasih sayang dan tolong menolong, ini menjadi semangat membangun Aceh yang sangat monumental pada jaman kegemilangan," sebutnya

Dia berharap dalam agenda Kenduri Kebangsaan nantinya menjadi momentum bagi kebangkitan masyakarat Aceh dalam berbagai sektor. Terlebih, sebut dia, tokoh Aceh Surya Paloh menjadi sosok inspiratif dalam merangkul semua lapisan masyarakat.

"Bang Surya Paloh sangat rindu dengan kampung halamannya, semoga ini menjadi asbab menuju Aceh lebih memahami makna kebersamaan," kata pria yang juga anggota DPR RI Fraksi PKS tersebut. (OL-13)

Sejumlah pelajar SD Islam Terpadu Alfityan School Kabupaten Aceh Besar belajar Alquran di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

BERITA TERKAIT