30 January 2020, 15:36 WIB

Jokowi: Shio Saya Kerbau, Katanya Mesti Kerja Lebih Keras


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo menghadiri perayaan Imlek Nasional 2020 di Indonesia Convention Expo (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Kamis (30/1). Jokowi tampil dengan cheongsam berwarna merah.

Dalam kesempatan itu, Presiden turut menyinggung soal tantangan ekonomi yang dihadapi. Menurutnya, ekonomi dunia sedang pada posisi menurun dan penuh ketidakpastian.

Karena itu, kerja keras dan cepat dibutuhkan bangsa ini agar mampu menghadapi perubahan. Presiden pun berkelakar soal keinginannya untuk terus bekerja keras pada periode kedua pemerintahannya ini.

"Shio saya kerbau. Katanya tahun ini, saya harus kerja keras. Padahal saya lima tahun kemarin juga sudah super kerja keras," tuturnya.

Presiden pun menegaskan soal menjaga keberagaman bangsa. Ia bahkan sempat berguyon mengomentari penampilan Menko PMK yang mengenakan cheongsam dengan kopiah.

"Menko PMK pakai baju adat Tionghoa tapi pakai peci. Nggak ada selain di Indonesia ini yang begitu nggak ada," seloroh Jokowi diikuti tawa para tamu undangan.

Baca juga: Hadiri Imlek Nasional, Jokowi: Mari Syukuri Keberagaman

Tak hanya sampai di situ, candaan Jokowi juga berlanjut menyasar penampilan Ketua Panitia Imlek Nasional Gandi Sulistiyanto. Sebagai orang Tionghoa yang notabene juga ketua panitia, Gandi justru mengenakan beskap Jawa lengkap dengan blangkon.

"Saya senang pagi ini bisa pakai baju ini (cheongsam). Ketua panitianya justru pakai baju tradisional Jawa. Ini kan dibalik-balik aja," canda mantan Wali Kota Solo itu.

Menurut Presiden, gaya berpakaian 'terbalik-balik' itu menyimbolkan penghargaan keberagaman yang patut dirawat. Ia mengingatkan keberagaman yang dimiliki bangsa ini perlu terus dirawat.

Kali ini merupakan yang kedua Jokowi menghadiri perayaan imlek nasional. Perayaan tahun ini mengusung tema Bersatu untuk Indonesia Maju. Sebanyak 10.000 tamu undangan hadir berasal dari profesi dan agama.

Jokowi menegaskan keberagaman yang ada tetap harus dijaga dan menjadikan masyarakat satu sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

"Bayangkan kita ini beragam ada 714 suku dengan bahasa daerah 1.100 lebih. Enggak ada negara seberagam Indonesia. Ini yang patut kita syukuri," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT