30 January 2020, 09:40 WIB

Perkuat Fondasi Toleransi dari Akar Rumput


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

KONFLIK global tidak cukup hanya diselesaikan dengan pendekatan politik dan militer. Diperlukan alternatif lain untuk menciptakan kerukunan, yakni melalui pendekatan keagamaan. Demikian disampaikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin ketika menerima pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Pati Djalal, beserta jajarannya di Kantor Wapres, Jakarta, kemarin.

Wapres menjelaskan bahwa politik, apalagi pendekatan militer tidak dapat digunakan untuk menciptakan kerukunan. Oleh karena itu, pendekatan keagamaan, forum-forum, upaya-upaya komunikasi harus terus dikedepankan untuk menciptakan kerukunan.

"Dalam menghadapi konflik global saat ini para pemuka agama tidak hanya selesai pada capaian rukun, tetapi bagaimana rukun bisa merukunkan," ujarnya.

Lebih lanjut, Wapres mengatakan untuk membangun kerukunan diperlukan pilar yang kuat. Ia mencontohkan bahwa Indonesia memiliki empat pilar, yaitu ideologi, yuridis, sosiologis, dan teologis.

"Pancasila merupakan pilar ideologis, UUD 1945 pilar yuridis, kearifan lokal pilar sosiologis. Selanjutnya,  menyebarkan narasi kerukunan dari majelis-majelis keagamaan, membangun komunikasi antarumat beragama merupakan pilar teologis."

Ke depan, Wapres berharap FCPI dapat mencakup semua agama seperti Hindu dan Buddha, mengingat konflik yang terjadi di India dan Myanmar. Jadi, tidak hanya berfokus pada kerukunan agama Islam dan Kristen.

Atas kontribusi FPCI, Wapres mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kinerja dan program yang telah dilakukan selama ini.

Dino melaporkan kegiatan yang telah dilaksanakan FPCI, salah satunya Project 1.000 Abrahamic Circles. Program yang telah dimulai dan akan berlangsung selama 10 tahun ke depan itu melibatkan 3.000 tokoh agama. "Program dilatarbelakangi keprihatinan dan kekhawatiran melihat situasi intoleran secara global." 

Untuk itu, ia meminta arahan dan doa restu Wapres agar kegiatan dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Ia menjelaskan penyelesaian masalah intoleransi ialah dengan memperkuat pemahaman akar rumput tentang toleransi, bukan lagi kegiatan forum tingkat tinggi atau internasional karena tidak menyentuh ke bawah. Dia berharap Project 1.000 Abrahamic Circles mampu memperkuat fondasi toleransi.

Senada, Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Frans Magnis Suseno menyampaikan bahwa untuk mewujudkan toleransi dilakukan dengan komunikasi dan saling menghargai kebebasan beragama dalam menjalan-kan ibadah agama masing-masing. (Ind/Che/P-3)

BERITA TERKAIT