30 January 2020, 05:50 WIB

Ekspor Toyota Tertinggi dalam 5 Tahun


(RO/S-1) | Otomotif

EKSPOR kendaraan utuh (complete built up/CBU) bermerek Toyota mencatatkan capaian tertinggi selama 5 tahun terakhir, yaitu sebesar 208.500 unit, yang tahun sebelumnya sebesar 206.500 unit.

Hal itu memberi gambaran ekspor otomotif sepanjang 2019 menorehkan performa positif di tengah guncangan krisis ekonomi global.

Performa ekspor ini disokong oleh model sport utility vehicle (SUV) Fortuner dan Rush, masing-masing 45.300 unit dan 50.300 unit, sedangkan model sedan Vios turut mendukung capaian positif ekspor CBU dengan volume 31.000 unit. Dari segmen multi-purpose vehicle (MPV), model-model andalan seperti Kijang Innova dan Avanza berhasil dikapalkan ke mancanegara dengan volume masing-masing 5.300 unit dan 28.900 unit.

Model low cost green car (LCGC) Agya juga ambil bagian dalam capaian ekspor 2019 dengan volume 27.800 unit. Sementara itu, model Yaris, Sienta, dan Town Ace/Lite Ace melengkapi kinerja ekspor CBU bermerek Toyota dengan total volume sebesar 19.900 unit.

Selain mengekspor kendaraan utuh, Toyota juga mengirimkan kendaraan terurai (complete knock down/CKD) sebanyak 45.400 unit, mesin bensin dan etanol dengan tipe TR dan NR dengan total 123.600 unit, serta komponen kendaraan dengan volume 94,2 juta unit.

Produk ekspor Toyota telah merambah lebih dari 80 negara tujuan di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan Karibia.

"Mempertahankan serta meningkatkan performa ekspor merupakan hal yang tidak mudah karena menyangkut banyak faktor, seperti daya saing, baik daya saing produk, infrastruktur pendukung, hingga regulasi. Karenanya, kami berterima kasih atas dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah Indonesia, yang selalu melakukan evaluasi terhadap sektor-sektor yang memengaruhi kegiatan ekspor nasional," ujar Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, melalui keterangan resmi, pekan lalu.

Krisis global dirasakan sangat signifikan memperlambat laju pertumbuhan ekspor produk Toyota di Indonesia. Belum lagi adanya hambatan dengan skema nontarif di beberapa negara tujuan ekspor yang turut memperburuk performa pengiriman produk otomotif dari dalam negeri.

Menurut Warih, tantangan ekspor otomotif ke depan ialah menurunnya konsumsi produk otomotif imbas dari melemahnya kondisi perekonomian di negara maju. Mencari negara-negara tujuan baru menjadi penting untuk mempertahankan performa ekspor. "Adanya tambahan negara tujuan baru di kawasan Amerika Tengah, Mekong, dan Afrika cukup membantu dalam mengompensasi penurunan volume di beberapa negara terdampak krisis dan negara yang menerapkan hambatan nontarif."

Di sisi lain, Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN, Bob Azam, menambahkan ke depan disrupsi digital juga menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi industri otomotif. Untuk menghadapi hal tersebut, pihak korporasi tengah menyiapkan upaya, salah satunya dengan meningkatkan efisiensi melalui penerapan teknologi dengan tetap menjadikan sumber daya manusia (SDM) sebagai 'center of transformation'.

"Kompetisi ekspor yang makin ketat ke depannya, baik antarsesama pelaku industri otomotif maupun lintas sektor industri hingga persaingan antarnegara dan antarkawasan, membutuhkan SDM berkapabilitas tinggi yang mampu menguasai teknologi guna melawan inefisiensi. Selain menjaga konsistensi perfoma ekspor maupun operasi yang telah eksis, saat ini kami tengah mempersiapkan diri agar transformasi menuju era elektrifikasi dan mobilitas dapat berjalan dengan mulus," pungkas Bob Azam. (RO/S-1)

 

BERITA TERKAIT