30 January 2020, 07:35 WIB

Dua yang Baru dari Efek Rumah Kaca


Fathurrozak | Weekend

JALAN Enam Tiga menjadi mini album perdana Efek Rumah Kaca. Sebelumnya, grup band yang terbentuk 2001 ini selalu merilis album, yang kini sudah berjumlah tiga. Band yang beranggotakan Cholil, Akbar, dan Poppie ini merekam keempat materi lagu dalam mini album ini di sebuah studio di New York, Amerika pada tahun lalu. Pada Selasa, (28/1), mini album itu akhirnya dirilis ERK melalui kanal dengar streaming tepat pada pukul 24:00 WIB. Lalu, pada malam harinya, mereka menggelar konser perilisan mini album Jalan Enam Tiga.


Dalam kesempatan itu, ERK sekaligus meresmikan nama Penerka sebagai nama bagi para penggemar mereka. Penerka merupakan kepanjangan dari Penggemar Efek Rumah Kaca. Keputusan untuk akhirnya memberi nama, disebutkan sebab dalam setahun belakangan secara organik bermunculan akun-akun sosial media para penggemar band yang telah memiliki tiga album ini di berbagai daerah. Selain itu, Cholil menangkap ada fenomena baru bagi band yang digawanginya pada beberapa waktu belakangan.


“Dari lama ERK sudah menampik keinginan orang untuk bikin fans club. Karena  kita merasa enggak bisa mengelolanya. Namun, dalam dalam tiga tahun ini, gue pikir karena karakter generasi juga, entah kenapa menurut gue anak sekarang begitu excited. Baik untuk mendengarkan musiknya, atau datang mengunjungi konsernya. Banyak sekali gigs yang ramai. Terus cara mereka menikmati musik, sekarang ini ada juga di konsernya ERK ada yang crowd surf,” papar vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud saat konferensi pers jelang konser rilis mini album Jalan Enam Tiga, di M Bloc Space, Selasa, (28/1).


Bagi Cholil, crowd surf tentu sesuatu yang tak lazim dilakukan ketika bandnya manggung. Berbeda bila hal itu dilakukan saat band metal atau rock manggung. Ia mencontohkan, misalnya saat Cinta Melulu dibawakan, ada dari penontonnya yang melakukan crowd surf.


"Ini tingkah laku baru, yang mungkin khas generasi sekarang. Untuk ranah indie pop atau indie rock, misalnya dari konser Barasuara lalu .Feast. Generasi sama yang datang, dan kemudian ketika pergi ke wilayah musik yang sama, juga begitu. Gue merasa ada kecocokan dengan terjadinya demonstrasi besar, #ReformasiDikorupsi. Mereka punya kemarahan, keinginan mencari identitas dan menciptakan cara baru dalam menikmati musik,” tambah Cholil. (M-1)

BERITA TERKAIT