29 January 2020, 18:47 WIB

Kementan Kawal Gerakan Pengendalian Spodoptera Frugiperda


mediaindonesia.com | Ekonomi

Bulan Januari ini merupakan masa panen jagung di Kabupaten Gowa. Aktivitas memetik jagung yang telah menguning terlihat di berbagai wilayah. Tak terkecuali di Desa Sengka, Kecamatan Bontonompo Selatan.

Namun panen kali ini terasa berbeda dengan panen tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya serangan hama baru yang menyerang tanaman jagung di Kab. Gowa.

Koordinator POPT Kab. Gowa, Nur Aisah membenarkan hal tersebut. “Tanaman jagung di wilayah kami biasanya diserang oleh ulat, tapi bukan hama ini. Biasanya hama yang menyerang adalah Spodoptera litura. Sementara serangan pada bulan Oktober ini bukan spesies yang biasanya, melainkan spesies hama baru.”

Ketika petani mendapati tanaman jagungnya terserang hama, umumnya ia pergi ke kios pertanian untuk membeli racun, pestisida kimia sintetis. Dengan bekal insektisida seadanya, petani menyemprot jagungnya dengan harapan hama akan mati.

Namun ternyata yang didapat tidak sesuai dengan bayangan. Hamanya masih hidup dan tanaman semakin rusak parah. Beruntungnya di masa keputusasaan itu, petani menceritakan apa yang ia alami kepada petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat.

Petugas POPT segera melaksanakan monitoring lapangan di lokasi kejadian, serta memberikan rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan.  “Hasil monitoring dan identifikasi kami menyatakan bahwa hama baru ini adalah Spodoptera frugiperda. Meskipun baru pertama kali ditemukan disini, tetapi serangannya sudah menyebar di beberapa kecamatan di Kab. Gowa, yaitu Kec. Bontonompo Selatan, Biringbulu dan Somba Opu. Dengan tingkat serangan dan populasi yang sudah tinggi di lapangan, maka perlu dilakukan gerakan pengendalian (gerdal),” kata Nur Aisah.

Gerdal dilaksanakan dengan kerja sama antara pemerintah dan petani, di mana Pemerintah menyediakan bahan pengendali berupa insektisida sesuai rekomendasi. Sementara petani menyediakan waktu dan tenaganya untuk melaksanakan gerdal.

Gerdal dimulai dengan bimbingan teknis singkat tentang jenis hama yang menyerang serta teknik pengendalian yang tepat. Pengendalian UGF dilaksanakan dengan menyemprotkan insektisida langsung pada gulungan daun muda, karena ulat/larva UGF bersembunyi didalamnya. Teknik ini menjadi kunci keberhasilan gerdal UGF di lapangan.

Hasil pengamatan OPT pasca gerdal menunjukkan bahwa populasi hama turun secara nyata, diikuti dengan tanaman jagung yang tumbuh kembali dengan tunas-daun baru. Selain itu, gerdal yang dilaksanakan juga berfungsi menghilangkan sumber inokulum UGF bagi tanaman jagung di sekitarnya yang berjumlah 300 ha. Dengan demikian, amanlah hamparan jagung sekeliling dari serangan UGF.

Perkembangan tanaman jagung pasca gerdal cukup menggembirakan. Tanaman mampu pulih, tongkol muncul dan mulai terisi. Hal ini memberikan harapan baru bagi petani Sengka yang pada awalnya telah kehilangan harapan panen.

Rumbu merasa senang karena meskipun tanaman jagungnya habis-habisan terserang hama UGF, ternyata masih bisa panen! “Alhamdulillah saya bisa panen. Walaupun hasil yang didapat agak sedikit turun, tapi ternyata tanaman saya masih bisa panen”, tuturnya.

Petani Sengka, Rumbu menyatakan kegembiraannya bahwa kegiatan gerdal memberikan dampak positif bagi berkurangnya populasi hama UGF. “Dengan adanya Gerdal ini, saya dan petani lainnya merasa tertolong karena masih bisa merasakan panen padahal sebelumnya kami sudah pasrah tanaman jagung kami tidak bisa selamat dari serangan hama ini,” ujar Rumbu.

Berkat gerdal yang dilaksanakan bulan Oktober lalu, Rumbu yang memiliki lahan seluas 0,2 ha saat ini bisa panen jagung dengan hasil 1.300 kg pipil kering. Sementara pada musim sebelumnya saat tidak ada serangan hama UGF, panen mencapai 1.450 kg.

Meskipun susut sekitar 10%, ia merasa senang karena masih bisa panen. Gerdal memberikan harapan pagi petani agar tetap mendapatkan hasil di saat panen nantinya, meskipun terserang hama.

Pada kesempatan yang terpisah, Deddy Ruswansyah (Kasubdit Teknologi Pengendalian OPT – Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan) menyatakan perlunya melaksanakan monitoring dini. “Semakin dini pengamatan dilakukan, maka hama tanaman akan lebih cepat dideteksi. Dengan demikian maka tindakan pengendalian dapat dilaksanakan lebih awal dengan teknik pengendalian yang sesuai,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Deddy menyampaikan kunci keberhasilan gerdal sebisa mungkin memenuhi unsur 6 TEPAT (Tepat sasaran, jenis, dosis, cara, waktu dan mutu). Karena gerdal merupakan kegiatan massal, maka hendaknya dilaksanakan dalam hamparan yang luas secara bersamaan dalam satu waktu sehingga gerdal yang dilakukan memberikan hasil yang optimal. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT